Salah satunya dilakukan melalui pengembangan bahan aktif antibakteri dari bahan alam yang dikombinasikan dengan teknologi formulasi berbasis nanoteknologi.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PRBBOOT) BRIN, Abdi Wira Septama, menjelaskan, penelitian ini berfokus pada penemuan kandidat obat atau bahan aktif dari alam yang berpotensi digunakan untuk menangani infeksi bakteri.
Terutama bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotik.
“Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati. Potensi bahan alam ini perlu terus dieksplorasi untuk menemukan kandidat bahan aktif yang dapat dikembangkan sebagai antibakteri, khususnya dalam menghadapi masalah resistensi antibiotik,” jelas Abdi dalam siaran pers, di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/11/2026).
Ia menyebut, salah satu bahan alam yang menjadi fokus penelitian adalah temulawak (Curcuma xanthorrhiza), tanaman obat tradisional Indonesia yang telah digunakan secara turun-temurun.
“Berdasarkan hasil penapisan (screening) penelitian sebelumnya, minyak dan ekstrak temulawak menunjukkan potensi sebagai antibakteri. Hasil pengujian juga menunjukkan keduanya berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri yang resisten terhadap antibiotik,” ujarnya.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi pengembangan temulawak sebagai kandidat bahan aktif untuk penanganan infeksi bakteri.
Namun, menurut Abdi, bahan alam memiliki tantangan tersendiri ketika dikembangkan menjadi bahan obat, salah satunya adalah kelarutan yang rendah dalam air.
Kondisi ini dapat memengaruhi penyerapan bahan aktif di dalam tubuh sehingga potensi manfaatnya belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim peneliti mengembangkan formulasi menggunakan nanoteknologi, di antaranya melalui sistem nano-transfersome dan nanoliposom.
Pendekatan ini ditujukan untuk meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitas minyak maupun ekstrak temulawak sehingga bahan aktifnya berpotensi memberikan aktivitas antibakteri yang lebih baik dibandingkan dengan bentuk konvensionalnya.
Abdi menerangkan, riset ini tidak hanya mencakup penemuan kandidat bahan aktif (drug discovery), tetapi juga pengembangan teknologi formulasi dan sistem penghantaran obat (drug delivery system).
Integrasi ketiga pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan potensi dan efektivitas bahan alam sebagai bahan baku obat.
Salah satu formulasi yang dikembangkan adalah nano-transfersome dalam bentuk emulsi cair untuk aplikasi topikal atau melalui kulit.
"Dalam sistem ini, bahan aktif diformulasikan agar dapat berpermeasi melalui membran kulit, sehingga berpotensi mendukung penghantaran bahan aktif ke area sasaran,” terangnya.
Menurutnya, penelitian ini mengembangkan sediaan berbasis nanoteknologi dari minyak temulawak dalam bentuk gel maupun emulsi nano-transfersome.
"Teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan zat aktif menembus membran kulit lebih cepat dibandingkan ekstrak temulawak mentah (crude extract),” imbuh Abdi.
Dalam pelaksanaannya, riset ini berkolaborasi dengan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dan Program Studi Farmasi Universitas Pembangunan Veteran Jakarta.
Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memperkuat keahlian dalam bidang formulasi sediaan, sekaligus menjadi wadah diskusi dan pertukaran pengetahuan guna menghasilkan produk yang efektif dan efisien.
Abdi menambahkan, hasil penelitian ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut oleh industri farmasi, kosmetik, maupun obat tradisional.
Pemanfaatannya tidak hanya diarahkan untuk mendukung penanganan penyakit infeksi, tetapi juga berpeluang diaplikasikan dalam produk kosmetik, misalnya untuk perawatan kulit berjerawat yang melibatkan mekanisme antibakteri.
“Melalui penerapan nanoteknologi, hasil riset ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan produk berbahan alam dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” jelasnya.
Ke depan, penelitian ini juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus mendukung kemandirian bahan baku obat nasional.
Kekayaan alam Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat berbasis alam.
“Dengan dukungan riset dan penguasaan teknologi formulasi, potensi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor serta memperkuat kesiapan nasional dalam menghadapi kebutuhan obat, termasuk saat terjadi pandemi maupun peningkatan kasus penyakit infeksi,” pungkasnya. * (junita sianturi)


