Pekerja mendata ketersediaan stok pupuk di salah satu gudang sebelum disalurkan ke petani. suaratani.com-istSuaraTani.com – Jakarta| Anggota Komisi VI DPR RI Daeng Muhammad mengharapkan konsep revitalisasi yang digagas oleh PT Pupuk Indonesia (Persero) punya keberpihakan pada petani. Pasalnya sampai saat ini petani di daerah kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi.
Ketersediaan pupuk bersubsidi hanya 45% dari kebutuhan, atau 9 juta ton dari kebutuhan e-RDKK 23 juta ton. Tingginya disparitas harga antara pupuk bersubsidi dan non subsidi memicu perembesan pupuk bersubsidi ke pasar non subsidi.
Sebagai Anggota DPR RI, Daeng berharap keberpihakan yang jelas, bagaimana mendukung apa yang dilakukan oleh Pupuk Indonesia, demi swasembada pupuk, demi kebutuhan petani yang terpenuhi.
“Output-nya adalah, bagaimana petani mendapatkan pupuk yang tercukupi dengan harga yang murah dan terjangkau," papar Daeng saat Rapat Dengar Pendapat dengan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), di Gedung Nusantara I DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (24/6/2021).
Konsep revitalisasi yang dipaparkan oleh PT Pupuk Indonesia adalah mempersiapkan pembangunan dua pabrik pupuk baru. Kedua pabrik tersebut akan dibangun di Palembang, Sumatera Selatan dan Bintuni, Papua Barat.
Di hadapan para Anggota Komisi VI DPR RI, Direktur Utama Pupuk Indonesia Achmad Bakir Pasaman mengatakan, pembangunan pabrik di Palembang digunakan untuk operasional anak usaha PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) dengan nilai investasi US$670 juta.
Sumber pendanaan berasal dari pendanaan internal serta pinjaman bank. Ia mengatakan, pembangunan pabrik baru tersebut sekaligus menjadi upaya revitalisasi perseroan untuk meningkatkan efisiensi produksi namun bisa menghasilkan produksi pupuk yang lebih besar.
Atas paparan tersebut, Daeng pun mendukung konsep revitalisasi yang disampaikan. Dia berharap agar biaya produksi pupuk bisa ditekan, sehingga harga pupuk dapat dijangkau oleh petani.
"Saya melihat ada dua pendekatan yang dilakukan oleh Pupuk Indonesia. Pertama revitalisasi terhadap pabrik-pabrik pupuk yang tidak efisien, untuk memunculkan bagaimana produksi yang efisien, sehingga mampu memproduksi pupuk yang berkompetisi. Yang kedua melakukan pembangunan pabrik pupuk baru," jelas Daeng. *(desi)

