Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Daging Kelapa dan Air Kelapa Komoditi Ekspor Unggulan Karantina Karimun

Humas Karantina Pertanian Karimun, Kepulauan Riau (Kepri), Fista saat mengikuti kegiatan Afetrnoon Tea yang digelar Badan Karantina Pertanian Belawan bersama kalangan media, Selasa (6/7/2021) di Hotel Radison, Medan. suaratani.com - ist

SuaraTani.com – Medan| Hingga kini, komoditi ekspor yang menjadi produk ungulan melalui Karantina Pertanian Karimun, Kepulauan Riau (Kepri) adalah daging kelapa dan air kelapa, dengan negara tujuan Malaysia.

“Ekspor yang dikirim ke Malaysia itu masih dalam bentuk segar yakni daging kelapa utuh dan air kelapa. Jadi, belum bentuk olahan karena eksportir yang di Karimun belum memiliki sarana dan prasarana pendukung olahan kelapa,” kata Humas Karantina Pertanian Karimun, Kepulauan Riau (Kepri), Fista saat diwawancarai SuaraTani.com, pada kegiatan Afeternoon Tea yang digelar Karantina Pertanaian Belawan bersama kalangan media, Selasa (6/7/2021) lalu. 

Di Malaysia, kata Fista, produk mentah tersebut diolah menjadi tepung santan dan nata de coco. Sedangkan tempurung atau batok kelapa oleh eksportir diolah sendiri menjadi briket. Briket tersebut kemudian dipasarkan untuk memenuhi pasar domestik.   

Untuk ekspor daging kelapa, menurut Fista, dalam seminggu rata-rata pengiriman yang dilakukan oleh PT Saticotama Indonesia (eksportir) sebanyak dua hingga tiga kali. Dan, dalam setiap pengiriman berkisar antara 40-50 ton. Sedangkan untuk air kelapanya sendiri berkisar lima ton tiap pengiriman.

Mengenai kendala yang dihadapi pihak eksportir dalam memasok barangnya ke Malaysia, Fista mengatakan, masih berkutat pada kurangnya bahan baku. 

“Permintaan kadang tidak bisa terpenuhi karena pasokan yang masih sedikit. Eksportir masih mengandalkan kelapa dari petani yang ada di Pulau Guntung dan sekitaran Kepulauan Riau. Tetapi untuk masalah teknis lainnya, saya juga kurang mengetahuinya karena ada bidang yang menanganinya,” jelasnya.

Untuk harga jual daging kelapa, Fista mengatakan, fluktuatif tetapi rata-rata berada di kisaran Rp8.000 per kg untuk daging kelapa segar yang sudah dikuliti dan untuk air kelapa harganya berkisar Rp2.000-an per liter.

“Jadi memang, harga dianggap masih terlalu rendah oleh petani Karimun. Petani menganggap harga yang diberikan eksportir masih rendah atau 11-12 kalau dia (petani) jual ke pasar lokal. Tetapi harga rendah tidak selamanya. Perusahaan atau eksportir itukan punya standar ya, jadi kalau barangnya bagus otomatis harga beli ke petani juga bagus. Jadi, tergantung gradenya,” kata Fista.

Terhadap komoditas lainnya yang berpotensi ekspor, menurut Fista, tidak banyak komoditas pertanian yang bisa diekspor. Dulu kata dia, ada nenas yang siap untuk diekspor namun ekspor ditolak karena tidak adanya kontainer pendingin. 

“Kemudian, ada juga sagu yang punya potensi besar di Karimun, tetapi skopnya masih local. Ekspor dilakukan dari luar Karimun. Jadi, sagu dikirim melalui Karimun ke Jakarta dari Jakarta ke Tanjungpinang,” tutup Fista. * (junita sianturi)