Petani memanen cabai merah di Deliserdang beberapa waktu yang lalu. Harga yang mahal membuat produk hortikultura Indonesia kalah bersaing dari negara lain.suaratani.com-dokSuaraTani.com – Jakarta| Produk Hortikultura Indonesia dinilai masih kalah bersaing dengan produk hortikultura dari luar, terutama dari sisi penampakan dan harga.
Karena itu menurut Sekretaris Jendral (Sekjen) Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Peripi) Awang Maharijaya, inovasi teknologi hortikultura masih terbuka ruang yang cukup untuk dapat dikembangkan untuk menghasilkan produk yang berkelanjutan.
“Hortikultura itu satu hal yang sangat potensial untuk dikembangkan. Dan kata kunci di karakteristik hortikultura adalah kualitas sangat menentukan harga, termasuk juga keunikan. Jadi tidak semata tonase,” ujar Awang dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja (Panja) mengenai Hortikultura dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Supply Chain dan Logistik Indonesia, serta Institute For Development of Economics and Finance yang digelar secara virtual, Senin (12/7/2021).
Awang menyebutkan, produk hortikultura yang bukan hanya cabai dan bawang tetapi juga buah, sayur, bunga, tanaman obat dan jamur memiliki potensi yang sangat besar di masa mendatang.
Ini bisa dilihat dari pola belanja masyarakat di tahun 1994 yang memberi porsi hanya seperempat untuk buah dan sayur, menjadi setengah porsi belanja di tahun 2007. Dan diyakini saat ini porsi konsumsi juga sudah semakin meningkat.
Sehingga jika ini tidak diantisipasi, maka dikhawatirkan Indonesia menjadi pangsa pasar negara-negara lain yang memiliki produk dengan kualitas tinggi.
“Jadi, di sini pun kita bisa melihat bahwa, sekarang orang beli sudah tidak memperhitungkan harga. Yang dilihat adalah kecantikan produk, khasiat. Panci saja kalau dibranding sehat, harganya bisa naik berkali lipat, apalagi makanan,” sebut Awang yang juga Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sayangnya kata Awang, ada cukup banyak hambatan yang dihadapi untuk mengembangkan tanaman hortikultura di Indonesia, meski sejak tahun 2000, Pemerintah sudah membentuk Direktorat Jendral (Dirjen) Hortikultura.
Ia mencontohkan, investor yang sering kali gagal menanamkan modalnya di Indonesia dikarenakan biaya produksi lebih tinggi daripada harga jual ekspor.
“Karena sistem produksi di sini belum terstandard, areanya belum luas, belum terkoorporasi dengan baik. Itu mengakibatkan struktur biaya menjadi susah bersaing,” sebutnya. .
Selain itu, penanganan pasca panen ini juga belum dilakukan dengan baik, sehingga akhirnya, catatan produksi di lapangan yang basisnya adalah perkiraan produksi atau produksi basah.
“Jadi, ketika bicara ketersediaan, ini agak jomplang. Ini yang sedang kita perbaiki dengan direktorat,” tuturnya.
Ditambahkannya, kendala lain yang masih dihadapi adalah produksi masih rendah. Kemudian tanah terfragmentasi sehingga tidak bisa dilakukan standarisasi dengan baik. Ini terjadi, karena dari produksi sampai distribusi berada dalam rantai pasokan yang belum efisien.
“Hambatan teknis yang lebih tinggi untuk perdagangan terutama ekspor adalah technical barrier di beberapa negara semakin ketat. Keberadaan hama atau serangga di produk ini bisa menjadi technical barrier yang menghambat perdagangan internasional,” terangnya.
Untuk itu, Awang menyarankan tiga hal yang harus dilakukan sehingga produk hortikultura Indonesia bisa bersaing.
Pertama, meningkatkan hasil. Banyak produktivitas di Indonesia yang masih rendah. Kemudian produknya tidak bersih, sehingga kalau panen, itu mungkin hanya 10%. Itu bisa ditingkatkan, per hektare atau pun per hari. Artinya bisa juga mendorong penggunaan tanaman yang lebih cepat panen, sehingga musim tanamnya bisa bertambah.
Kedua mengurangi biaya produksi dan kehilangan hasil, serta yang ketiga itu perluasan areal produksi.
Ketiganya ini menurut Awang akan menghasilkan affordable technology and innovation yang tujuan akhirnya barang selalu tersedia (kuantitas), kualitas premium, keamanan dari sisi cemaran dan lain-laiin tidak ada, kontiniuitas pasokan jadi penting untuk pasar dalam dan luar negeri, waktu panen yang tepat, harga yang kompetitif.
“Harga ini saya highlight, karena salah satu faktor kita tidak bisa bersaing, adalah harga. Jika kita bicara cabai, kenapa volume impor cabai kering kita juga tinggi, karena kalau kita produksi cabai kering dengan cara yang sekarang, tidak akan mampu bersaing karena cara tanamnya masih cara tanam cabai segar,”tegasnya.
Produk hortikultura Indonesia diyakini masih memiliki pangsa ekspor yang tinggi terutama ke Amerika Serikat dan juga China. *(ika)

