SuaraTani.com – Medan| Tingginya harga pupuk non subsidi sejak pertengahan tahun 2021 membuat petani di tanah air termasuk di Sumatera Utara (Sumut) menjerit. Biaya produksi petani semakin tinggi.
Tingginya harga pupuk nonsubsidi ini menurut Direktur Utama (Dirut) Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman dikarenakan harga bahan baku seperti phospat dan KCL melonjak tajam, naik sekitar tiga kali lipat.
“Meskipun harga bahan baku phospat dan KCL naik hingga tiga kali lipat, namun Pupuk Indonesia masih menjual pupuk nonsubsidi di dalam negeri dengan harga yang lebih rendah dibandingkan di luar negeri,” kata Bakir dalam keterangan tertulisnya, yang diterima SuaraTani.com, Selasa (25/1/2022).
Dikatakan Bakir, pihaknya menjual pupuk non subsidi di pasar luar negeri berkisar US$1.000 per ton atau Rp14,5 juta per ton. Tapi kami menjual di dalam negeri hanya berkisar Rp9,3 juta per ton.
“Jadi ada selisih sekitar Rp5 juta antara dalam dan harga luar negeri. Harga di dalam negeri itu Rp5 juta lebih murah dibanding harga di luar negeri," kata Bakir.
Bakir juga menjelaskan penyebab kenaikan harga pupuk selain dari bahan baku, juga terjadi kenaikan harga gas di Eropa. Kenaikan harga gas Eropa ini menyebabkan harga pupuk internasional melonjak.
"Masalah banned pemerintah China tidak mengekspor pupuk, ini pengaruhnya cukup besar," kata Bakir.
Pupuk Indonesia sebagai produsen, kata Bakir, tidak bisa mengatur harga karena harus mematuhi ketentuan dalam undang-undang yang berlaku tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo membeberkan penyebab harga pupuk non subsidi yang relatif mahal dibandingkan beberapa waktu sebelumnya dikarenakan bahan baku yang melonjak.
"Karena pupuk di dunia naik. Phospat naik tiga kali lipat harganya. Bahkan China tidak mengeluarkan phospatnya sekarang," kata Menteri Syahrul dalam rapat bersama Komisi IV DPR RI sebagaimana dikutip Antara, Senin (24/1/2022).
Dia menjelaskan bahwa meskipun harga bahan baku pupuk naik berkali lipat, pemerintah menetapkan harga pupuk subsidi tetap. Akan tetapi dilakukan penyesuaian untuk harga pupuk nonsubsidi.
Kemudian pihaknya akan terus melakukan sosialisasi pada petani untuk melakukan pemupukan berimbang agar lebih efisien dalam penggunaan pupuk sekaligus meningkatkan kualitas tanaman.
"Oleh karena itu, target kami tahun ini mengajarkan tentang bagaimana pupuk berimbang, tidak menggunakan pupuk anorganik, ke satu juta petani," katanya.
Mentan mengemukakan, program tersebut akan dimulai secepatnya. * (junita sianturi/ant)

