Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Januari Diprediksi Inflasi, Bukti Setelah Nataru Harga Bahan Pokok Malah Semakin Mahal

Pedagang bahan pokok di pasar tradisional di Kota Medan. Di bulan Januari, Sumatra Utara diprediksi mengalami inflasi sebagai dampak harga bahan pangan yang bertahan mahal.suaratani.com-dok 

SuaraTani.com – Medan| Sumatra Utara (Sumut) diprediksi akan mengalami inflasi di bulan Januari 2022, meskipun perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) telah lewat.  Hal ini dikarenakan sejumlah bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat mengalanmi kenaikan.

Kenaikan harga yang akan memicu inflasi ini diyakini merupakan gambaran adanya perbaikan ekonomi masyarakat, jika kenaikan harga itu dipicu meningkatnya permintaan. 

Akan tetapi, pemerhati ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin meragukan hal tersebut. Justru, di bulan ini kenaikan harga sejumlah bahan pangan masyarakat lebih didorong oleh kenaikan pada level biaya produksi. 

“Misalnya komoditas telur ayam maupun daging ayam yang terlihat mencolok kenaikannya. Kenaikan harga ini lebih dipicu oleh meningkatnya harga di tingkat produsen. Masalah kenaikan pakan ternak ditambah dengan settingan stok yang tidak pas memicu kenaikan harga,” kata Gunawan di Medan, Senin (31/1/2022).

Dikatakannya, selama Januari 2022, harga daging ayam mengalami kenaikan dalam presentase 13% hingga 14% dibandingkan dengan bulan Desember 2021, untuk harganya sendiri saat ini dijual dikisaran Rp33 ribu per Kg dari sebelumnya sempat Rp42 ribu per Kg di bulan yang sama. 

Untuk harga telur ayam naik sekitar 14.5% di bulan Januari ini. Telur ayam saat ini dijual di kisaran Rp24 ribu per Kg setelah sempat mencapai Rp27 ribu per Kg di awal bulan. 

“Untuk harga bawang merah itu naik dalam rentang angka yang sangat lebar yakni 3% hingga 7% di sejumlah pedagang yang berbeda. Untuk bawang putih rata rata naik sekitar 5%. Untuk bawang merah dan bawang putih naik dibandingkan dengan Desember 2021. Tetapi selama Januari stabil di kisaran angka Rp28 ribuan per Kg,” ujarnya.

Untuk cabai rawit, di bulan Januari ini fluktuasinya cukup tinggi seperti bawang merah. Cabai rawit naik sekitar 3.5% hingga 6.5%. Cabai rawit sendiri saaat ini dijual di kisaran Rp44 ribu per Kg, berfluktuasi dikisaran angka Rp35 hingga Rp60 ribu selama Januari 2022. 

Sementara untuk harga minyak goreng sendiri, dimana harganya mulai diatur pemerintah, tidak memberikan dampak pada perubahan harga minyak goreng di pasar tradisional. Dimana justru harga minyak goreng naik dalam rentang 4.5% hingga 8%. Mulai dari minyak goreng curah hingga minyak goreng kemasan. Minyak goreng saat ini dijual dalam rentang Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per Kg. Berbeda dengan harga yang diatur pemerintah Rp14 ribu per liter.

“Hanya komoditas cabai merah yang mengalami penurunan di bulan Januari, dengan anjlok sekitar 26% hingga 30%. Cabai merah dijual di kisaran angka Rp20 ribuan per Kg. Sedangkan daging sapi harganya tidak mengalami perubahan. Bergerak dalam rentang angka Rp120  ribu hingga Rp130 ribu per Kg,” sebutnya.

Dengan kenaikan harga bahan pangan bulan ini, maka laju inflasi di Sumut diperkirakannya masih akan berada dalam rentang 0.3% hingga 0.4%. ini menjadi bukti bahwa harga kebutuhan pangan masyarakat masih mahal dibandingkan dengan Desember 2021. Sejumlah harga kebutuhan pokok masyarakat justru bergerak naik setelah perayaan Tahun Baru.

“Dan yang menjadi akar masalahnya ada pada kenaikan biaya produksi atau tanam. Kenaikan harga energi dunia diiringi dengan pemulihan ekonomi secara perlahan telah memicu kenaikan sejumlah kebutuhan pangan masyarakat. Meksipun beberapa bahan pangan berada dalam tren turun belakangan ini, namun, Januari ini menjadi indikasi kuat bahwa tekanan ekonomi masyarakat masih terjadi,” pungkasnya. *(ika)