SuaraTani.com – Medan| Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Sumatera Utara (Sumut) mencatat, minyak goreng menempati peringkat kedua komoditi yang memiliki sumbangsih terhadap inflasi di Kota Medan.
“Andil minyak goreng itu dibawah andil beras. Ini dari hasil survei kita terhadap 10 komoditas di sejumlah pasar tradisional di Kota Medan,” ujar Kepala Divisi Kelompok Perumusan Kekda Provinsi Sumut, Agustinus Fajar Setiawan saat dihubungi, Selasa (1/2/2022).
Karena itu BI menurut Fajar Setiawan memberikan perhatian penuh terhadap stabilisasi harga minyak goreng dengan mendukung kebijakan Pemerintah yang sudah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng di angka Rp14.000 per liter.
“Karena itu kami berharap agar produsen minyak goreng mau mematuhi kebijakan ini. Karena kalau mengacu kepada kebijakan DMO dan DPO yang ditetapkan, tidak ada pihak yang dirugikan,” katanya.
Diakui Fajar Setiawan, kenaikan harga CPO yang menjadi titik awal penyebab kenaikan harga minyak goreng memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Sumut di tahun 2021. Ini menurutnya bisa dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang berada di atas 100 bahkan mencapai 125.
“Dan kalau kita lihat lebih detail lagi, NTP tertinggi itu ada di subsektor perkebunan dalam hal ini sawit,” terangnya.
Sebelumnya Deputi Kepala BI Provinsi Sumut Ibrahim menyebutkan, harga komoditi terutama CPO masih akan cenderung bertahan mahal di tahun 2022 ini mengingat permintaan global masih sangat tinggi di tengah pembatasan pasokan karena kebutuhan dalam negeri juga cukup tinggi.
Dari catatan di quarter IV tahun 2021, secara year on year (yoy) terjadi kenaikan yang signifikan di indeks harga komoditas ekspor yang mencapai 76,5% dibandingkan quarter IV tahun 2020 untuk ekspor CPO.
“Artinya kenaikan ekspor Indonesia secara keseluruhan itu sebagian besar didukung kenaikan harga komoditas internasional, meskipun untuk beberapa komoditi didukung peningkatkan volume ekspor,” pungkasnya. *(ika)

