Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Subsektor Perkebunan Rakyat Jadi Penopang, NTP Sumut di Januari Naik 0,63% Jadi 126,75

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut, Dinar Butar-butar


SuaraTani.com – Medan| Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumatera Utara (Sumut) di bulan  Jabuari tercatat sebesar 126,75, atau naik 0,63%  dibandingkan dengan NTP Desember 2021, yaitu sebesar 125,95.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut, Dinar Butar-butar mengatakan, NTP yang merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib) dipicu kenaikan NTP di 3 subsektor yaitu NTP subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) sebesar 1,27%, NTP subsektor Peternakan (NTPT) sebesar 0,61%, dan NTP subsektor Perikanan (NTNP) sebesar 0,60%. 

“Sementara NTP subsektor Tanaman Pangan (NTPP) turun sebesar 0,09% dan NTP subsektor Hortikultura (NTPH) turun sebesar 2,05%,” sebut Dinar di Medan, Rabu (2/2/2022). 

Dinar menyebutkan, indeks harga yang diterima petani (It) dari kelima subsektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. 

Pada Januari 2022, It Sumut mengalami kenaikan sebesar 1,22% dibandingkan dengan It Desember 2021, yaitu dari 135,76 menjadi 137,41. Kenaikan It terjadi pada empat subsektor, yaitu It tanaman pangan sebesar 0,52%, It tanaman perkebunan rakyat subsektor sebesar 1,83%, It subsektor Peternakan sebesar 1,19%, dan It subsektor perikanan sebesar 1,07%. Sementara, It subsektor hortikultura mengalami penurunan sebesar 1,37%. 

Sementara untuk indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang menggambarkan fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan khususnya para petani, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian, tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,58% dibandingkan dengan Ib Desember 2021, yaitu dari 107,78 menjadi 108,41. 

“Kenaikan Ib terjadi pada seluruh subsektor, yaitu Ib subsektor tanaman pangan sebesar 0,61%, Ib subsektor hortikultura sebesar 0,70%, Ib subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,55%, Ib subsektor peternakan sebesar 0,57%, dan Ib subsektor perikanan sebesar 0,46%,” sebutnya.

Ditambahkannya, jika dilihat lebih spesifik berdasarkan komoditas, maka terdapat sejumlah komoditas produksi pertanian yang memberikan andil terbesar terhadap Nilai Tukar Petani (NTP) di daerah perdesaan Sumut. 

Pada subsektor Tanaman Pangan, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap penurunan NTPP adalah komoditas kacang kedelai sebesar 0,01%. Pada subsektor Hortikultura, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap penurunan NTPH, diantaranya cabai merah sebesar 3,37%, cabai hijau sebesar 0,45%, dan semangka sebesar 0,09%. 

Pada subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap kenaikan NTPR, yaitu kelapa sawit sebesar 1,91% dan kemenyan sebesar 0,02%.

Pada subsektor Peternakan, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap kenaikan NTPT, yaitu ayam ras pedaging sebesar 0,70%, babi sebesar 0,45%, dan kambing sebesar 0,05%. 

“Sementara pada subsektor Perikanan, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap kenaikan NTNP, diantaranya kepiting laut sebesar 0,54%, udang laut sebesar 0,44%, dan udang payau sebesar 0,09%,” tambahnya. 

Pada bulan Januari 2022, terjadi inflasi perdesaan di Sumatera Utara sebesar 0,62%. *(ika)