Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Daya Beli Petani di Sumut Turun

Petani memupuk tanaman padi. Di bulan Mei, NTP petani di Sumut mengalami penurunan.suaratani.com-ist 

SuaraTani.com – Medan| Nilai Tukar Petani (NTP) di wilayah Sumatera Utara (Sumut) di bulan Mei mengalami penurunan. Penurunan NTP tersebut jelas menunjukkan bahwa ada penurunan daya beli petani di wilayah Sumut.

Sayangnya menurut pemerhati ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, penurunan daya beli petani tersebut justru diikuti dengan peningkatan pengeluaran petani yang belakangan mengalami kenaikan. 

Data menunjukan bahwa di bulan Mei 2022, indeks harga yang harus dibayar oleh petani itu mengalami kenaikan 0.48% menjadi 110.72. Artinya NTP benar benar menunjukan adanya indikasi kuat bahwa pendapatan petani menurun, dan diperburuk dengan pengeluaran petani Sumut yang justru mengalami kenaikan.

“Jelas terlihat petani Sumut harus merogoh uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhannya sehari hari, ditambah lagi dengan kenaikan biaya untuk menanam tanamannya. Bahkan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) naik 0.68%. Kenaikannya lebih tinggi dari indeks harga yang harus di bayar oleh petani,” sebut Gunawan di Medan, Jumat (3/6/2022).

 Ini berarti petani harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk membeli bibit, pupuk maupun obat obatan. Kenaikan harga pupuk, pestisida belakangan ini membuat daya beli petani kian tertekan. Dan semua terlihat dalam NTP Sumut, jka dikelompokkan dengan mengacu kepada sektor tanaman tertentu.

Maka petani di sektor tanaman hortikultura ini yang paling menderita. Karena NTP nya justru di bawah 100 yakni 92.56. Dan di bulan Mei indeks harga yang harus dibayar petani satur-sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat justru naik 0.43%. 

“Sangat terpukul daya belinya, karena daya belinya terpuruk (dibawah 100) ditambah lagi pengeluarannya bertambah besar,” katanya.

Selanjutnya adalah petani tanaman pangan (padi, palawija). Sekalipun indeks yang di terima di atas 100, namun indeks yang harus dibayar juga di atas 100. Bahkan NTP nya hanya 95.73. Artinya pendapatan petani tanaman pangan ini tergerus oleh pengeluaran yang lebih besar. Jadi daya beli petaninya masih lebih rendah dibandingkan tahun 2018 silam.

Hanya petani perkebunan yang masih menikmati daya beli yang mumpuni. Meksipun turun tajam di bulan Mei 2022 sebesar 18.49%, namun NTP nya ada di level 139,39. Terlihat jelas kebijakan menutup ekspor produk CPO lantas menekan daya beli petani perkebunan di Sumut.

Penurunan NTP secara keseluruhan di bulan Mei 2022 jangan di biarkan. Ada dampak serius dari penuruanan NTP tersebut. Yakni inflasi dari tanaman tertentu sulit untuk dikendalikan. Sebagai contoh, petani cabai yang terbebani dengan kenaikan harga pupuk serta obat obatan belakangan ini kerap membuat petani dengan mudah mengganti tanamannya.

Saat terjadi penurunan harga yang sangat tajam. Petani langsung membabat tanamannya dan mengganti dengan tanaman yang baru. Alhasil harga cabai langsung naik seperti yang terjadi saat ini. 

“Hal ini dikarenakan petani tidak mau menanggung beban yang berlebihan karena semua pengeluaran petani belakangan ini naik tajam,” pungkasnya. *(ika)