Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gerdal WBC, Petugas Diminta Perhatikan dan Monitor Wilayah Endemis OPT

Para petani bersama  UPT PTPH Sumut melakukan gerakan pengendalian (gerdal) hama Wereng Batang Coklat (WBC) pada tanaman padi petani di Desa Lubuk Saban, Kecamatan Pantai Cermin,  Kabupaten Serdangbedagai (Sergai), Selasa (31/5/2022). suaratani.com - junita sianturi

SuaraTani.com – Pantai Cermin| Menekan penyebaran serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) khususnya wereng batang coklat (WBC) pada tanaman padi, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sumatera Utara (Sumut), melalui UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) melakukan gerakan pengendalian (gerdal).

Kegiatan gerdal yang dipimpin Kepala Seksi Pengamatan, Pengendalian OPT Dinas TPH Sumut, Rukito, dilaksanakan pada lahan seluas 25 hektare di Desa Lubuk Saban, Kecamatan Pantai Cermin,  Kabupaten Serdangbedagai (Sergai), Selasa (31/5/2022). 

Kegiatan tersebut dilakukan bersama-sama petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (KT) Cempaka, serta petugas pengamat organisme pengganggu tumbuhan (POPT). Kegiatan tersebut juga turut dihadiri Kepala Lab Tanjungmorawa, Raslim Hutabarat.

Petugas POPT Kecamatan Pantai Cermin, Sakaria Ginting mengatakan, gerdal hama WBC yang dilakukan bukan karena populasi WBC yang meningkat tapi lebih meningkatkan pengawasan para petani terhadap tanaman padinya dari serangan WBC.

“Serangan WBC masih sedikit tapi kita harus tetap mewaspadainya,” kata Sakaria dalam kegiatan Gerdal WBC di Desa Lubuk Saban, Selasa (31/5/2022).  

Adapun umur tanaman padi yang dikendalikan saat ini berkisar 35 hari setelah tanam dengan luasan berkisar 25 hektare dari luas lahan padi sawah yang dimiliki KT Cempaka berkisar 45 hektare.

“Di Desa Lubuk Saban sendiri luas pertanaman padinya berkisar 405 hektare,”sebutnya.  

Rukito menyerahkan bantuan pestisida kepada KT Cempaka untuk mengendalikan  serangan OPT terutama hama Wereng Batang Coklat (WBC) pada tanaman padi petani di Desa Lubuk Saban, Kecamatan Pantai Cermin,  Kabupaten Serdangbedagai (Sergai), Selasa (31/5/2022). suaratani.com - junita sianturi

Usai gerdal yang dilakukan dengan penyemprotan pestisida, petani diberikan edukasi tentang pengendalian WBC baik secara alami maupun penggunaan kimia.

Menurut Rukito yang memberikan edukasi mengatakan, serangan hama WBC sering muncul tiap dua musim tanam. Namun intesitas serangannya tergolong ringan karena langsung dikendalikan.  

“Yang paling berbahaya adalah saat tanaman berumur 50 hingga 60 hari atau saat tanaman akan keluar malai,” jelas Rukito yang didampingi, staf PTPH Sumut, Rufli Pohan dan staf Seksi PPOPT, Tetra Sagala.

Karena itu, untuk mencegahnya, petani harus melakukan pengamatan saat tanaman berumur 25 hari dan 50 hari. Dari pengamatan itu, akan diketahui seberapa besar intensitas serangan WBC tersebut untuk kemudian dilakukan pengendaliannya

“Jadi, jangan jor-joran menyemprot pestisida tanpa dilakukan pengamatan lebih dulu. Lakukan pengamatan lima rumpun pada tanaman padi. Penyemprotan jor-joran akan merugikan  petani sendiri, terutama  biaya produksi  akan semakin membengkak,” kata dia.

Dalam melakukan penyemprotan, kata Rukito, petani juga harus memperhatikan 6 Tepat, yakni yakni tepat sasaran, tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan alat, serta tepat mutu. Dengan begitu, petani dapat menekan biaya produksi dari pembelian pestisida.

Usai edukasi, Rukito menyerahkan bantuan pestisida dari pemerintah untuk mengendalikan hama WBC kepada KT Cempaka sebanyak 25 liter. Namun, sebelum gerdal dilakukan, petani juga mendapat alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker dan topi kepada petani.

Terpisah, Plt Kepala Dinas  TPH Sumut, Bahruddin Siregar meminta pengendalian serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) harus dilakukan dengan cara-cara yang ramah lingkungan agar keberlanjutan lahan sawah terjaga.

“Tolong wilayah endemis OPT bisa dapat perhatian khusus untuk dimonitor agar tidak terjadi serangan OPT yang meluas ke daerah lain,” kata Bahruddin Siregar melalui Kepala UPT  PTPH Sumut, Marino kepada SuaraTani.com, Rabu (1/6/2022), di Medan.

Bahruddin juga mengarahkan kepada petani, penyuluh,  pengamat organisme pengganggu tumbuhan (POPT) untuk selalu sigap dan tanggap mengawal pengaman produksi padi. 

“Ini sesuai dengan arahan Bapak Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi bahwa semua harus sigap dan tanggap mengamankan produksi pangan khususnya padi demi tercapainya pertanian yang maju, mandiri, modern untuk Sumut Bermartabat,” jelasnya.

Sementara itu, Marino juga berharap setiap petugas lapang POPT dapat melakukan mapping daerah-daerah  yang rawan serangan OPT sehingga penyebarannya dapat dikendalikan. * (junita sianturi)