SuaraTani.com - Perbaungan| Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sumatera Utara (Sumut), melalui UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) melakukan gerakan pengendalian (gerdal) organisme penganggu tumbuhan (OPT) terutama jenis hama penggerek batang pada taman padi.
Kegiatan yang dilakukan, Selasa (31/5/2022) dilaksanakan pada lahan seluas 25 hektare di Desa Lidah Tanah, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) bekerjasama dengan petani dan petugas OPT setempat.
“Kegiatan ini tidak hanya untuk menekan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) saja tetapi juga untuk mensukseskan ketahanan pangan nasional. Kita tahu serangan OPT dapat mempengaruhi pencapaian produksi gabah petani. Jadi, sebelum serangan meluas kita harus segera mengendalikannya,” kata Kepala UPT PTPH Sumut, Marino kepada SuaraTani, Rabu (1/6/2022).
Berdasarkan laporan pengamatan Petugas OPT di lapangan, luas serangan hama penggerek batang di Sumut periode 1-15 Mei 2022, menurut Marino, berkisar 89,9 hektare yang terdiri dari serangan ringan 79,9 hektare, serangan sedang 4 hektare dan serangan berat 6 hektare.
“Karena itu, sebelum serangan bertambah luas kita ambil langkah gercep (gerakan cepat) pengendaliannya. Dan, diperiode itu luas areal pengendalian yang kita lakukan berkisar 1.020,4 hektare,” kata Marino.
Sedangkan untuk gerdal yang dilakukan kemarin (Selasa, 31/5/2022), di Desa Lidah Tanah, Kecamatan Perbaungan, karena berdasarkan laporan petugas OPT di sana, terjadi peningkatan serangan hama penggerek batang.
“Makanya, kita kembali melakukan gerdal untuk mencegah meluasnya serangan hama tersebut,” jelasnnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengamatan, Pengendalian OPT Dinas TPH Sumut, Rukito yang memimpin Gerdal OPT hama penggerek batang di Desa Lidah Tanah mengatakan, tingkat serangan hama penggerek batang pada tanaman padi di Desa Lidah Tanah ini sudah mencapai 10,2% pada laporan 27 Mei 2022. Kemudian meningkat lagi menjadi 12,8% per Selasa (31/5/2022).
Dihadapan para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Jaya Tani, petugas pengendali OPT di Kecamatan Perbaungan, Kepala Desa Lidah Tanah, Kamtibmas, PPL di Kecamatan Perbaungan, Rukito mengatakan, serangan ini lebih tinggi dibanding periode tanam sebelumnya.
Menurut Rukito, Desa Lidah Tanah merupakan daerah endemik hama penggerek batang. Artinya, tiap musim selalu ditemukan meskipun dalam intensitas serangan ringan.
Cara Pengendalian Penggerek Batang
Usai penyemprotan yang dilakukan bersama petani dan petugas OPT, Rukito yang didampingi Kepala Lab Tanjungmorawa, Raslim Hutabarat, staf PTPH, Rufli Pohan, dan staf Seksi PPOPT, Tetra Sagala, memberikan edukasi pengenalan siklus hama penggerek batang dan pengendaliannya pada tanaman padi.
Menurutnya, pengendalian yang dilakukan untuk hama penggerek batang dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, melakukan pengutipan kelompok telur saat tanaman padi masih di persemaian. Telur selalu berada di ujung daun dan itulah yang diambil dan dimusnahkan.
Kedua, pengendalian dengan menggunakan musuh alami, yakni dengan menggunakan trichograma yang memakan telur-telur hama penggerek batang. Untuk merangsang munculnya trichograma petani bisa menanam bunga (refugia) di pinggiran sawah. Karena trichograma akan menghisap nektar pada bunga.
Ketiga, lanjut Rukito, pengendalian dengan menggunakan kimia yang sistemik. Dan, itu tingkat keberhasilannya juga hanya 40%. Sedangkan 60% lagi pada keseriusan petani. Karena itu petani harus menggunakan pestisida dengan mengantongi konsep 6Tepat, yakni tepat sasaran, tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan alat, tepat mutu.
“Pengendalian dengan cara kimia kita harapkan hanya dilakukan sebagai pilihan terakhir. Kita berharap pengendalian dilakukan petani saat di persemaian. Dengan begitu, petani dapat menghemat biaya produksi dengan menghemat pembelian pestisida,” terangnya.
Jika pengendalian tidak dilakukan di persemaian, menurut Rukito, petani akan dirugikan. Tanaman padi pada umur 20 hari akan diserang hama penggerek batang dan penyemprotan akan rutin dilakukan sampai menjelang panen. Akibatnya, biaya produksi petani akan tinggi dan produksi juga akan menurun.
Dalam kesempatan itu juga diserahkan bantuan pestisida untuk mengendalikan hama penggerek batang kepada petani sebanyak 25 liter.
Sebelumnya, Petugas OPT di Kecamatan Perbaungan Lamsihar Simamora mengatakan, pihaknya secara berkala memberikan laporan hasil pengamatan OPT di lapangan kepada provinsi.
“Kami tetap memahami konsep pengendalian hama terpadu untuk menjaga agroeksositem yang ada di areal persawahan yang terserang. Dan, setiap minggu kami memberikan laporan terhadap perkembangan hama penggerek batang dan OPT lainnya ke provinsi," kata Lamsihar. * (junita sianturi)



