Warga menunjukkan uang Rupiah. Pada RDG pekan ini, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75% setelah sebelumnya masih terus mempertahankan suku bunga acuan di angka 3,50%.suaratani.com-dokSuaraTani.com – Medan| Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan besaran bunga acuannya sebanyak 25 basis poin menjadi 3.75%.
Kebijakan tersebut menurut pemerhati keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, sebelumnya tidak terpikirkan oleh banyak kalangan, termasuk dirinya yang tidak melihat adanya indikasi bahwa BI akan menaikkan bunga acuan di pekan ini. Karena jika melihat kebijakan yang telah lalu, BI berani tidak menaikkan bunga acuan sekalipun Rupiah saat itu berada di kisaran 15 ribu per US Dolarnya.
Saat ini mata uang rupiah ditransaksikan di level 14.849 per US Dolar. Bahkan dalam sebulan terakhir Rupiah sempat ditransaksikan di kisaran level 14.600-an per US Dolar. Bahkan Rupiah justru terlihat menguat sekalipun BI sudah menaikkan besaran bunga acuannya. Dan kalau ditarik ke belakang, sesaat sebelum kebijakan diambil, maka ada dua kemungkinan besar yang siap menghantam pasar.
Isu pertama adalah bahwa The FED atau Bank Sentral AS akan tetap agresif menaikkan besaran bunga acuannya, guna meredam laju tekanan inflasi di AS. Namun, untuk rencana kenaikan bunga acuan di AS ini sebenarnya jauh di bulan bulan yang lalu juga sudah diprediksikan. Bahkan saat itu Rupiah berada dalam tekanan yang cukup besar.
“Nah yang kedua adalah adanya rencana kenaikan harga BBM subsidi di tanah air. Dan sejauh ini Presiden Jokowi seakan telah member “kode” untuk menaikkan harga BBM subsidi tersebut. Salah satu kode yang dimaksud adalah, dengan memerintahkan bawahannya agar memperhitungkan dengan cermat dampak dari kenaikan harga BBM nantinya,” ujar Gunawan Benjamin di Medan, Rabu (24/8/2022).
Gunawan menilai, rencana kenaikan harga BBM tersebut telah mengambil porsi yang lebih besar dalam proses penentuan besaran BI 7 Days Repo Rate pada Selasa (23/8/2022) kemarin. Menurutnya, BI sudah bertindak mendahului kurva, sinyalemen kuat kenaikan harga BBM sudah diantispasi, karena sudah pasti akan menyulut inflasi.
Ia juga tidak melihat BI sepenuhnya mengikuti kebijakan Bank Sentral di Negara lain, khususnya Bank Sentral AS. Selain itu, kinerja mata uang Rupiah yang dalam sebulan terakhir di bawah level 15.000 per US Dolar, juga tidak menunjukan bahwa kinerja US Dolar yang menguat, yang dicerminkan dengan kinerja indeksnya benar benar telah menekan Rupiah.
Terbukti kinerja mata uang Euro (Eropa) dan Poundsterling Inggris melemah tajam terhadap US Dolar. Namun tidak halnya dengan Rupiah, pelemahan Rupiah justru lebih terlihat seiring dengan wacana kenaikan harga BBM itu sendiri.
“Jadi saya menilai keputusan menaikkan bunga acuan pada hari ini bukan dipicu oleh sentiment eksternal, lebih dikarenakan ancaman inflasi akibat dari kenaikan harga BBM subsidi nantinya,” pungkasnya. *(ika)

