Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mendag Ajak Mahasiswa Kembangkan Jiwa Wirausaha dan Jadi Eksportir

Mendag Budi Santoso. foto: ist 

SuaraTani.com - Purwokerto| Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso (Busan) mengajak mahasiswa untuk mengembangkan jiwa wirausaha sejak dini dan berorientasi menjadi eksportir. 

Pasalnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) tahun ini memiliki program “Dari Lokal untuk Global” yang dapat dimanfaatkan para mahasiswa. 

Salah satu kegiatan dalam program tersebut adalah Campuspreneur, sebuah inisiatif strategis Kemendag untuk memperkuat kapasitas wirausaha sekaligus membuka akses ke pasar global. 

Kegiatan tersebut menjadi salah satu dari empat klaster kegiatan yang ada dalam program tersebut, sementara ketiga lainnya, yaitu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor); Desa Bisa Ekspor; dan Kemitraan UMKM. 

“Untuk memunculkan dan melatih jiwa kewirausahaan, Kemendag memiliki program Campusprenuer, yakni sebuah bentuk kerja sama dengan universitas dalam bentuk pelatihan ekspor dan pendampingan desain produk,” ungkap Mendag Busan dalam siaran persnya, Sabtu (17/1/2026) di Purwokerto.

Campuspreneur merupakan upaya kerja sama pemerintah dengan institusi pendidikan untuk melahirkan generasi muda yang memiliki jiwa wirausaha. 

Program ini berfokus pada pengembangan produk ekspor, pengembangan pelaku usaha ekspor, dan pengembangan pasar ekspor. Campuspreneur terbuka untuk umum sehingga tepat untuk dimanfaatkan mahasiswa yang berminat berwirausaha.

Menanggapi pentingnya peran wirausahawan dalam percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, Mendag Busan berpendapat, kolaborasi institusi pendidikan dan pemerintah menjadi penting. 

Menurutnya, sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menciptakan inovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta merespons tantangan perekonomian global. 

“Program pemerintah memiliki kesamaan dengan visi dan misi Muhammadiyah untuk Islam yang berkemajuan,” kata Mendag Busan. 

Ia juga memaparkan sejumlah program prioritas Kementerian Perdagangan yang membuka ruang bagi kontribusi akademisi dan mahasiswa. 

Dalam hal ini, ruang kontribusi bisa melalui program Kemendag ‘Dari Lokal untuk Global’ yang mencakup peningkatan ekspor oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor).

Sebelumnya, Mendag Busan secara daring membuka simposium Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (BEM PTMA) bertema “Redefinisi Peran Mahasiswa PTMA: Mengawal Konsolidasi Demokrasi dan Kedulatan Menuju Indonesia Emas 2045”. 

Simposium digelar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jawa Tengah, Jumat (16/1/2026).

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (BEM KM UMP), Yugo Dwi Yuwono, menyambut baik program kerja sama pengembangan kewirausahaan yang dimiliki oleh Kemendag.

Menurutnya, simposium ini menjadi wadah untuk membicarakan masa depan Indonesia khususnya Islam yang berkemajuan. 

“Selain itu, Program Campuspreneur yang dimiliki Kementerian Perdagangan sejalan dengan visi misi Muhammadiyah menciptakan Islam yang berkemajuan khususnya menciptakan peluang generasi muda yang mandiri melalui kewirausahaan,” jelas Yugo.

Pilar Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Dalam paparannya, Mendag Busan menyampaikan performa positif neraca perdagangan Indonesia. Pada November 2025 Indonesia mencatat surplus sebesar USD2,66 miliar. 

Capaian ini menopang capaian kumulatif Januari–November 2025 yang sebesar USD 38,54 miliar. Struktur ekspor masih didominasi oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 80,27 persen.

Selain itu, Mendag menyoroti tantangan global seperti proteksionisme, ketegangan geopolitik, dan isu perubahan iklim yang mulai memengaruhi kebijakan perdagangan internasional. 

Merespons hal itu, pemerintah menyiapkan strategi komprehensif seperti penguatan kerja sama perdagangan internasional, deregulasi impor bahan baku, upaya mendorong substitusi impor dengan produk dalam negeri untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional, dan upaya memelopori reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Banyak negara yang memberlakukan kebijakan proteksionis dan ini tidak sesuai dengan aturan WTO. Indonesia dan beberapa negara mempertanyakan eksistensi WTO dan sepakat untuk memelopori agenda reformasi WTO pada bulan Maret nanti di Afrika (KTM ke-14 WTO di Kamerun),” pungkas Mendag Busan. * (wulandari)