SuaraTani.com - Jakarta| Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kejadian bencana yang terjadi di wilayah Indonesia dalam periode Rabu (15/4/2026) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (16/4/2026) pukul 07.00 WIB.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, tercatat sebanyak 23 kejadian bencana dan delapan diantaranya kejadian menonjol yang berdampak signifikan dan perlu mendapatkan perhatian.
"Kejadian menonjol diawali dari sejumlah kejadian baru yang terjadi di beberapa wilayah. Di Provinsi Jawa Barat misalnya, banjir di Kabupaten Bandung terjadi di Kecamatan Majalaya (Desa Bojong) dan Kecamatan Bojongsoang (Desa Bojongsoang, Bojongsari, dan Tegalluar)," jelas Muhari, Kamis (16/4/2026) di Jakarta.
Peristiwa ini, kata Muhari, berdampak pada 95 KK atau 250 jiwa.
"Hingga saat ini, ketinggian muka air (TMA) di Kecamatan Bojongsoang masih 10–150 cm," jelasnya.
Di Provinsi Jawa Tengah, lanjutnya, banjir terjadi di Kabupaten Sukoharjo berlangsung sejak Selasa (14/4/2026) akibat hujan intensitas tinggi dan luapan beberapa sungai.
Di antaranya Kali Jenes dan Kali Pepe . Bencana ini melanda 19 desa yang berada di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Baki, Grogol, Kartasura, Gatak, dan Mojolaban.
"Sebanyak satu jiwa meninggal dunia, 1.211 KK atau 3.792 jiwa terdampak, serta 178 jiwa mengungsi. Kondisi terkini menunjukkan banjir berangsur surut dengan TMA 10–40 cm," sebut Muhari.
Selanjutnya, banjir di Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur, yang terjadi pada Senin (13/4) melanda Kecamatan Socah (Desa Bilaporah).
Peristiwa ini kata Muhari, berdampak pada 220 KK dengan jumlah rumah terdampak yang sama. Saat ini kondisi banjir berangsur surut dengan TMA 5–20 cm .
Di Provinsi Kalimantan Selatan, banjir Kabupaten Hulu Sungai Tengah terjadi pada Rabu (15/4) yang melanda Kecamatan Haruyan di enam desa, yaitu Desa Hapulang, Mangunang, Mangunang Seberang, Haruyan, Haruyan Seberang, dan Lokbuntar.
"Bencana ini berdampak pada 866 KK atau 2.876 jiwa dan saat ini dilaporkan berangsur surut," jelasnya.
Selain kejadian baru, Muhari juga mengatakan, terdapat pula pemutakhiran data pada beberapa kejadian bencana yang masih dalam penanganan.
Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau terjadi di sembilan kabupaten dan dua kota, meliputi Kabupaten Siak, Bengkalis, Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, Rokan Hilir, Kuantan Singingi, serta Kota Pekanbaru dan Dumai.
Hingga Rabu (15/4/2026), luas lahan terbakar tercatat mencapai 3.457,73 hektare. Status siaga darurat telah ditetapkan sejak 13 Februari 2026 hingga 30 November 2026.
"BNPB melakukan pendampingan di antaranya operasi modifikasi cuaca (OMC). upaya penanganan masih terus dilakukan," jelasnya.
Banjir di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, juga dilaporkan dalam pengkinian data yang melanda 11 desa dan 3 kelurahan yang ada di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Bojongsoang, Baleendah, Dayeuhkolot, Rancaekek, Solokanjeruk, dan Majalaya.
Total dampak mencapai satu korban meninggal dunia dan 10.200 KK atau 29.445 jiwa terdampak. Beberapa wilayah telah berangsur surut dengan TMA 10–160 cm.
Sementara itu, banjir di Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, yang terjadi sejak Selasa (14/4) melanda 14 kelurahan di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Laweyan, Pasar Kliwon, Serengan, dan Jebres.
Peristiwa ini berdampak pada 1.083 KK. Sebagian besar wilayah telah surut, dengan sisa genangan 10–30 cm dan warga mulai melakukan pembersihan.
"BNPB menegaskan bahwa potensi bencana hidrometeorologi basah masih tinggi di sejumlah wilayah Indonesia, seiring dengan kondisi cuaca yang dinamis," ujarnya.
Karena itu, kata Muhari, pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait diminta untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta memastikan langkah-langkah mitigasi dan penanganan darurat berjalan optimal.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada, khususnya yang berada di daerah rawan bencana, dengan memantau informasi resmi dari pemerintah dan segera melakukan langkah evakuasi apabila terjadi peningkatan potensi bahaya.
Kesiapsiagaan dan kewaspadaan bersama menjadi kunci dalam meminimalkan dampak bencana serta melindungi keselamatan jiwa. * (putri)


