Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kemenag Potong Anggaran Perjalanan Dinas Hingga 70%

Menag Nasaruddin dalam Breakfast Meeting, Selasa (7/4/2026). foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Kementerian Agama (Kemenag) melakukan sejumlah terobosan dalam merespons tantangan keterbatasan anggaran program 2026. 

Salah satu yang dilakukan adalah melakukan penajaman ekstrem pada akun belanja non-prioritas, demi menjaga agar program prioritas tetap berjalan.

"Kami melakukan pemotongan signifikan pada pos perjalanan dinas luar negeri hingga 70% dan perjalanan dinas biasa sebesar 65%. Anggaran hasil penghematan ini dialihkan untuk menjaga agar fungsi layanan dasar tidak terganggu," papar Kepala Biro Perencanaan pada Setjen Kemenag, Kastolan saat Breakfast Meeting di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Langkah tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Di mana Menag meminta seluruh jajaran Kemenag untuk melakukan transformasi fundamental dalam pola pikir perencanaan program. 

Menag menegaskan bahwa keterbatasan anggaran negara tidak boleh menjadi penghalang bagi instansi untuk memberikan solusi nyata atas berbagai problem keagamaan yang dihadapi masyarakat saat ini.

"Perencanaan kita ke depan, saya minta tolong berpikirlah out of the box. Acuan kita ke depan adalah tantangan, jangan hanya terpaku pada anggaran yang kita miliki. Kalau anggaran terbatas, cari alternatif," ujar Menag.

Di tengah tantangan fiskal yang cukup berat pada 2026, jajaran Kemenag diminta melakukan penajaman terhadap sejumlah program prioritas. 

Penajaman dilakukan untuk memastikan layanan keagamaan dan pendidikan tetap menyentuh akar rumput meskipun ruang gerak anggaran sangat terbatas.

Menurutnya, penajaman program dapat dilakukan dengan menyatukan gerak antara Direktorat Jenderal, Kanwil Kemenag Provinsi, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). 

“Mari kita bekerja sebagai Super Team, bukan Superman. Saya mohon Rektor dan Kakanwil berkolaborasi. Jangan hanya bertemu saat seremoni. Gunakan mahasiswa KKN/PKN untuk membantu program Bimas, misalnya memberantas buta huruf Al-Qur'an di desa atau mencegah pernikahan bawah tangan,” terang Menag.

“Integrasikan program penyuluh, imam masjid, dan KUA secara holistik, komprehensif, dan integratif. Ajuan kita ke depan adalah tantangan, jangan hanya terpaku pada anggaran yang kita miliki,” tutup Menag. * (putri)