Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Melimpah di Indonesia, BRIN Dorong Tekonologi Pengolahan Ilmenit Hasilkan Titanium

BRIN mendorong transformasi sumber daya mineral Indonesia menjadi sustainable materials atau material berkelanjutan, melalui pengembangan teknologi pengolahan ilmenit berbasis titanium. foto: ist

SuaraTani.com - Serpong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong transformasi sumber daya mineral Indonesia menjadi sustainable materials atau material berkelanjutan, melalui pengembangan teknologi pengolahan ilmenit berbasis titanium. 

Ilmenit (FeTiO₃) merupakan salah satu sumber utama titanium yang ketersediaannya melimpah di Indonesia, terutama pada endapan pasir mineral berat di wilayah pesisir seperti Bangka Belitung, Sumatera, Kalimantan, hingga sepanjang pantai selatan Jawa.

Namun, hingga kini pemanfaatannya masih terbatas sebagai bahan mentah dengan nilai ekonomi yang rendah. 

"Kondisi ini merupakan salah satu tantangan utama dalam pengelolaan sumber daya mineral nasional,” jelas Periset Pusat Riset Metalurgi (PRM) BRIN, Latifa Hanum Lalasari, dalam siaran persnya, Senin (27/4/2026) di Serpong. 

Inovasi ini kata Latifa, tidak hanya meningkatkan nilai tambah mineral, tetapi juga menempatkan aspek keberlanjutan sebagai fondasi utama dalam pengembangan material maju nasional. 

“Selama ini, ilmenit lebih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah. Padahal, jika diolah lebih lanjut, nilai ekonominya bisa meningkat berkali-kali lipat dan aplikasinya sangat luas di berbagai sektor industri,” jelasnya.

Menurutnya, pengembangan teknologi ini merupakan bagian dari upaya untuk menggeser paradigma pemanfaatan mineral dari sekadar komoditas menjadi material strategis yang berkelanjutan.

“Ke depan, material tidak cukup hanya memenuhi fungsi teknis, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan efisiensi sumber daya. Di sinilah konsep sustainable materials menjadi kunci,” lanjutnya.

Dia menjelaskan, BRIN mengembangkan pendekatan teknologi berbasis hidrometalurgi dan pirometalurgi melalui kombinasi proses sulfat dan proses oksalat. 

Metode ini dirancang sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan proses klorinasi konvensional, dengan fokus pada peningkatan efisiensi ekstraksi titanium serta minimisasi dampak lingkungan.

Dalam prosesnya, ilmenit diolah melalui tahapan pelindian (leaching) untuk menghasilkan prekursor titanium berbasis sulfat maupun oksalat. 

Prekursor ini kemudian diproses lebih lanjut melalui hidrolisis untuk menghasilkan pigmen titanium dioksida (TiO₂). Berwarna putih dengan sifat optik, fisik, kimia yang unggul, dan merupakan material kunci dalam berbagai aplikasi industri.

Sebagai sustainable material, ujar Latifa, TiO₂ memiliki karakteristik multifungsi yang mendukung berbagai sektor. 

Mulai dari industri pigmen (cat, tekstil, plastik, kertas), kosmetik dan farmasi, hingga aplikasi teknologi tinggi seperti material baterai berbasis lithium titanate oxide (LTO) dan komponen elektronik. 

Lebih dari itu, nilai keberlanjutan TiO₂ terletak pada kemampuannya untuk berkontribusi secara langsung terhadap solusi lingkungan. 

Material ini dapat berfungsi sebagai fotokatalis, yang mampu menguraikan polutan organik berbahaya dalam limbah industri, termasuk limbah tekstil, dengan bantuan sinar ultraviolet maupun cahaya matahari. 

"Material yang dihasilkan, tidak hanya digunakan untuk industri, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi lingkungan. Inlahi yang membedakan pendekatan kami,” ujar Latifa.

Ia menjelaskan, pendekatan sustainable materials diwujudkan melalui penerapan prinsip efisiensi sumber daya dan minimisasi limbah. 

Seluruh produk samping dari proses pengolahan titanium berupa limbah besi, dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bernilai ekonomi. 

Seperti pigmen besi oksalat dan besi oksida (hematit), sehingga mendukung konsep circularity dalam sistem produksi material. Kami merancang proses agar tidak menghasilkan limbah. 

"Semua aliran material dimanfaatkan kembali, sehingga lebih efisien dan ramah lingkungan,” jelasnya.

Selain titanium dioksida, BRIN juga mulai mengembangkan riset pembuatan sponge titanium sebagai bahan dasar logam titanium dan paduan titanium. 

Material ini memiliki keunggulan seperti kekuatan tinggi, ketahanan terhadap korosi, serta biokompatibilitas, sehingga banyak digunakan dalam industri strategis seperti alat kesehatan, dirgantara, kelautan, dan energi. 

Bahkan, material berbasis titanium mendominasi penggunaan implan medis secara global karena sifat mekaniknya yang unggul.  

"Dari sisi implementasi, teknologi ini telah berkembang mulai dari tahap laboratorium hingga tahap semi-pilot, termasuk pengembangan unit pelindian dan prototipe aplikasi material,” ungkapnya. 

Ke depan, BRIN menargetkan peningkatan skala produksi menuju industrialisasi serta mendorong kolaborasi dengan sektor industri untuk mempercepat adopsi teknologi. 

Latifa juga menekankan pentingnya integrasi dalam ekosistem pengolahan mineral nasional agar seluruh potensi sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Dengan pendekatan berbasis sustainable materials, inovasi pengolahan ilmenit ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan nilai tambah mineral, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi menuju industri yang rendah dampak lingkungan dan efisien sumber daya,” ucapnya.

Melalui riset ini, BRIN menegaskan perannya dalam membangun ekosistem industri material maju yang tidak hanya berdaya saing global. Selain itu, selaras dengan prinsip keberlanjutan dengan mengubah kekayaan alam Indonesia menjadi solusi teknologi untuk masa depan. * (junita sianturi)