Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

8 Persen Kasus Campak Orang Dewasa, Gejalanya dan Risiko Bisa Lebih Berat

Sekitar delapan persen kasus campak adalah orang dewasa. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harimat Hendarwan, mengungkapkan, sekitar delapan persen kasus campak adalah orang dewasa.

“Sering dianggap penyakit anak-anak, ketika virus campak menginfeksi orang dewasa perjalanan penyakitnya bisa berbeda. Gejalanya bisa terasa lebih berat, pemulihan lebih lama, dan risiko komplikasi meningkat,” ujarnya, Kamis (30/4/2026) di Jakarta.

Menurutnya, ada beberapa alasan campak bisa berbahaya pada orang dewasa, antara lain gejala lebih berat dan intens, risiko komplikasi lebih tinggi (pneumonia, hepatitis, ensefalitis, komplikasi neurologis), pemulihan lebih lama, dan risiko penularan lebih luas.

Menurut Harimat, tidak semua orang dewasa memiliki risiko yang sama. Kelompok dengan risiko lebih tinggi antara lain perempuan hamil, individu dengan sistem imun lemah, dan orang dengan penyakit kronis. 

“Pada kehamilan, campak dapat menyebabkan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, serta risiko komplikasi pada ibu,” terangnya.

Adapun tingkat keparahan campak sangat bervariasi, tergantung faktor inang dan lingkungan. Risiko mengalami campak parah atau fatal meningkat pada anak-anak berusia kurang dari 5 tahun, orang yang tinggal di kondisi padat penduduk, kekurangan gizi terutama defisiensi vitamin A, dan yang memiliki gangguan imunologi seperti AIDS.

Harimat mengatakan, campak dapat mengakibatkan komplikasi serius dan kematian. Komplikasi terjadi pada sekitar 30 persen kasus yang dilaporkan.

Komplikasi campak yang relatif umum meliputi otitis media, laringotrakeobronkitis (croup), diare, dan pneumonia. 

Komplikasi lain yang dapat terjadi antara lain kebutaan, ensefalitis atau infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak dan berpotensi kerusakan otak, diare parah dan dehidrasi, infeksi telinga, serta masalah pernapasan berat termasuk pneumonia.

“Jika seorang wanita tertular campak selama kehamilan, dapat mengakibatkan bayinya terlahir prematur dengan berat badan rendah,” ujar Harimat.

Komplikasi paling sering terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas usia 30 tahun. 

Komplikasi lebih mungkin terjadi pada anak-anak dengan kekurangan gizi, terutama mereka yang kekurangan vitamin A atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV atau penyakit lainnya.

“Campak dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga membuat tubuh lupa cara melindungi diri dari infeksi,” katanya.

Pneumonia dan Kekurangan Vitamin A

Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas terkait campak (3-57% kasus). Pneumonia memiliki dua bentuk utama, yakni pneumonia virus campak primer dan pneumonia sekunder. 

Pneumonia sekunder terutama disebabkan oleh infeksi bakteri, namun juga dapat disebabkan oleh adenovirus.

Di negara berkembang, kekurangan gizi, terutama kekurangan vitamin A, dan paparan penyakit menular lainnya umum terjadi, angka kematian akibat campak sekitar 3-6%. Sedangkan di negara-negara maju, kematian akibat campak sekitar 0,01-0,1%.

“Risiko kematian terbesar terjadi pada anak-anak di bawah usia 1 tahun dan pada orang dewasa di atas usia 30 tahun,” sebut Harimat.

Pada anak-anak di negara maju, otitis media (radang telinga tengah) terjadi pada sekitar 7–9% kasus, diare 8% kasus, dan pneumonia 1–6% kasus. Kehilangan pendengaran permanen dapat terjadi pada anak-anak yang mengalami otitis akibat campak.

Kekurangan vitamin A berkontribusi pada tertundanya pemulihan dan tingginya komplikasi. Infeksi campak juga dapat memicu kekurangan vitamin A akut dan xerophthalmia. 

“Campak merupakan penyebab penting kebutaan masa kanak-kanak yang dapat dicegah,” tegasnya.

Harimat juga menerangkan, ensefalitis atau peradangan akut pada jaringan otak terjadi pada sekitar 1-4 per 1000-2000 kasus campak, dan dapat dialami oleh anak-anak serta orang dewasa yang belum diimunisasi, baik selama atau setelah infeksi campak.

“Hal ini dapat terjadi karena otak terinfeksi virus selama fase ruam penyakit atau karena peradangan otak yang dimediasi kekebalan tubuh setelah infeksi campak,” terangnya.

Komplikasi campak yang jarang terjadi dan tertunda adalah panensefalitis sklerosis subakut (Subacute Sclerosing Panencephalitis/SSPE), yakni suatu penyakit neurologis fatal yang disebabkan oleh persistensi virus di sistem saraf pusat. 

Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 dari 25.000 anak yang menderita campak, dan merupakan kondisi langka yang dapat berkembang bertahun-tahun setelah infeksi campak alami.

Gejala biasanya muncul 6-15 tahun setelah setelah sembuh dari infeksi campak. SSPE adalah kondisi neurologis degeneratif yang secara progresif menghancurkan sel-sel saraf di otak dan hampir selalu menyebabkan penurunan fungsi mental dan kematian.

“Tanda-tanda awal SSPE meliputi penurunan prestasi sekolah dan perubahan perilaku. SSPE kemudian berkembang menjadi kejang mioklonik dan akhirnya ke keadaan vegetatif (terjaga namun tidak sadar),” pungkasnya. * (putri)