SuaraTani.com - Cibinong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat peran strategisnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui kolaborasi internasional.
Melalui Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), BRIN menjalin kerja sama dengan Food and Fertilizer Technology Center for the Asian and Pacific Region (FFTC) dalam forum Tropical Fruit Consortium.
Forum yang digelar di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno, Cibinong, Rabu (29/4/2026), ini menjadi momentum penting dengan ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) antara BRIN dan FFTC.
Penandatanganan MoU antara BRIN dan FFTC mencakup berbagai aspek kerja sama, mulai dari alih teknologi budidaya adaptif iklim, pengembangan pertanian sirkular, hingga upaya mencapai netralitas karbon di sektor pertanian.
Melalui kolaborasi ini, BRIN menargetkan percepatan adopsi teknologi hortikultura cerdas iklim secara luas guna meningkatkan efisiensi produksi, menjaga keberlanjutan rantai nilai pangan, serta memperkuat daya saing hortikultura nasional di pasar global berbasis data presisi.
"Forum ini sebagai langkah konkret memperkuat sinergi dalam mitigasi dampak perubahan iklim pada sektor hortikultura," kata Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, dalam siaran pers yang dikutip, Jumat (1/5/2026).
Dikatakannya, kegiatan ini turut melibatkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan lintas sektor.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan pada 27–28 April ke Jakarta, Karawang, dan Bogor.
Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung implementasi teknologi pertanian serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi petani, terutama akibat anomali cuaca di berbagai zona ekologi.
Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pangan yang tangguh.
Menurutnya, sektor hortikultura saat ini menghadapi tekanan serius, mulai dari ketidakpastian curah hujan hingga perubahan pola serangan hama.
“Pengembangan climate-smart horticulture melalui teknologi sederhana yang aplikatif menjadi kunci agar inovasi dapat langsung dirasakan oleh petani,” ujar Puji.
Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal, menekankan pentingnya komoditas buah-buahan sebagai pilar ketahanan gizi.
Ia mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat diversifikasi pangan sehat di masyarakat.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya menuntut adaptasi biologis tanaman, tetapi juga transformasi pendekatan riset dari hulu hingga hilir.
Dampak perubahan iklim terhadap fisiologi tanaman, termasuk meningkatnya serangan hama dan penyakit seperti hawar daun, menjadi perhatian serius.
Sebagai respons, kata Dwinita, BRIN mengembangkan varietas tanaman yang lebih resilien serta mengintegrasikan teknologi digital dalam sistem budidaya.
Salah satunya melalui optimalisasi portal Hortihub sebagai pusat intelijen agribisnis, serta penerapan pertanian presisi berbasis sensor IoT dan kecerdasan buatan (AI), termasuk untuk deteksi dini hama penggerek batang pada tanaman durian.
Dalam forum ini juga diluncurkan DFNet Guidebook, yang menjadi panduan teknis bagi peningkatan kapasitas petani kecil di kawasan Asia Pasifik.
Diskusi terkait implementasi panduan ini menyoroti pentingnya penerapan teknologi yang adaptif dan mudah diakses di tingkat tapak.
“Kolaborasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan di tingkat lapangan sekaligus mendorong transformasi sistem pangan yang berkelanjutan,” pungkas Dwinita. * (erna)


