SuaraTani.com - Bandung| Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) pada Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut).
Perangkat tersebut telah aktif memantau perairan pesisir Indonesia selama enam tahun terakhir. Alat yang juga dikenal dengan nama internasional sebagai Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL) atau ini ditujukan untuk memperkuat sistem deteksi dini tsunami di Indonesia.
Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang, PRKG BRIN, Semeidi Husrin, menjelaskan bahwa PUMMA, selain untuk tsunami, juga diharapkan dapat disandingkan dengan upaya mitigasi bencana pesisir ramah lingkungan.
Seperti tanaman pantai, tanggul alami dan struktur berbasis material alami lainnya untuk pengelolaan dinamika pesisir dan perlindungan Pantura Jawa.
“PUMMA hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismik. PUMMA diunggulkan karena sesuai dengan karakteristik tsunami dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan,” ujar Semedi dalam siaran pers yang dikutip, Senin (1/6/2026) di Bandung.
Menurutnya, urgensi pengembangan PUMMA tidak terlepas dari karakteristik geologi Indonesia yang rentan terhadap gempa bumi dan tsunami.
Indonesia memiliki kondisi geografis yang berada di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) dan pertemuan lempeng tektonik aktif dan wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan lempeng megathrust menyimpan potensi gempa yang dapat memicu gelombang tsunami.
Semeidi mengatakan, kata “murah” dalam nama alat ini bukan sekadar menggambarkan biaya produksi yang rendah, melainkan mencerminkan filosofi efisiensi tanpa mengorbankan keandalan.
Alat ini mampu memantau kondisi (anomali) permukaan laut secara langsung dengan pembaruan data setiap 15 detik (near-real time).
“Ada usulan untuk mengganti kata 'murah' menjadi 'multiguna', karena memang fungsi alat ini tidak terbatas hanya untuk mendeteksi tsunami tetapi juga untuk hal lain, seperti mitigasi bencana pesisir dan pengelolaan sumber daya di wilayah pesisir,” jelasnya.
Semeidi juga menambahkan bahwa pengembangan PUMMA sangat mempertimbangkan kondisi khas kebencanaan di Indonesia.
Menurutnya, sebagian besar tsunami di Indonesia bersifat nearfield dan atipikal, sehingga memerlukan pendekatan deteksi yang berbeda dibandingkan sistem konvensional.
Salah satu keunggulan PUMMA adalah penempatannya yang memanfaatkan pulau-pulau kecil sebagai natural offshore buoy atau pelampung alami di tengah laut.
"Dengan menempatkan sensor di pulau terdekat dari sumber bencana, seperti kompleks Gunung api Anak Krakatau, informasi mengenai kenaikan air laut yang tidak wajar dapat dikirimkan ke server dalam waktu kurang dari 5 menit,” terangnya.
Pada periode 2020–2021, terdapat delapan unit IDSL yang terpasang di Indonesia, yaitu di Lampung, Banten, Jawa Barat (dua unit), Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatra Barat (dua unit), dan Jakarta.
“Kemampuan PUMMA sudah teruji dalam situasi nyata. Ketika tsunami akibat letusan Gunung api Hunga Tonga menghantam perairan Indonesia pada Januari 2022, PUMMA berhasil mendeteksi gelombang tersebut dan mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang,” kata Semeidi.
Semeidi juga menjelaskan bahwa selama beroperasi di pesisir, tidak satupun unit PUMMA yang mengalami vandalisme.
Menurutnya, keberhasilan tersebut didukung oleh sosialisasi yang tepat sasaran. Selain mudah dipahami dan digunakan, PUMMA juga mendorong tumbuhnya rasa memiliki di kalangan warga sehingga mereka turut menjaga alat yang berfungsi mendukung keselamatan masyarakat.
“Kini, PUMMA tidak hanya dikembangkan untuk deteksi tsunami. Alat ini mulai dimanfaatkan untuk memantau fenomena banjir rob. Salah satunya di kawasan Muara Gembong, Bekasi, hal ini ditujukan agar pembangunan infrastruktur perlindungan pantai di Pantura Jawa bisa lebih terarah,” jelasnya.
Berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam pengembangan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia.
Semedi mengatakan, potensi terjadinya tsunami akibat aktivitas vulkanik (volcano tsunami) di Indonesia cukup tinggi sehingga diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk memasang sistem pemantauan gunung api dan sistem peringatan dini di berbagai wilayah.
Ia berharap jaringan pemantauan dapat diperluas hingga ke wilayah Indonesia bagian timur yang hingga kini masih memiliki keterbatasan cakupan.
"Langkah tersebut penting untuk mewujudkan pemerataan perlindungan bagi seluruh masyarakat pesisir di Indonesia," tutup Semedi. * (junita sianturi)


