Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Peneliti BRIN Tawarkan Pendekatan Rekosmik Berbasis Mikroba Pulihkan Lahan Terdegradasi

Profesor Riset bidang Mikrobiologi Tanah BRIN, Enny Widyati, menawarkan pendekatan baru melalui konsep Rekayasa Ekosistem Tanah Berbasis Mikroba (Rekosmik) sebagai fondasi utama dalam restorasi lahan terdegradasi. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Upaya rehabilitasi lahan di Indonesia selama puluhan tahun belum sepenuhnya mampu memulihkan kondisi ekosistem yang rusak. 

Meski jutaan bibit telah ditanam melalui berbagai program penghijauan dan rehabilitasi hutan, luas lahan terdegradasi di Indonesia masih mencapai sekitar 14 juta hektare. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak cukup hanya mengandalkan penanaman pohon.

Profesor Riset bidang Mikrobiologi Tanah BRIN, Enny Widyati, menawarkan pendekatan baru melalui konsep Rekayasa Ekosistem Tanah Berbasis Mikroba (Rekosmik) yang menempatkan komunitas mikroba tanah sebagai fondasi utama dalam restorasi lahan terdegradasi. 

Gagasan tersebut disampaikan dalam orasinya sebagai Profesor Riset Ilmu Kehutanan Bidang Restorasi Ekosistem Kepakaran Ekologi Mikrobiom dan Ekologi Restorasi di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6/2026). 

Dalam orasi yang berjudul "Optimasi Fungsi Komunitas Mikroba Tanah dalam Meningkatkan Rehabilitasi Lahan Terdegradasi untuk Mendukung FOLU Net Sink 2030" tersebut, ia menekankan pentingnya pemulihan komunitas mikroba tanah sebagai fondasi restorasi ekosistem. 

Menurut Enny, rehabilitasi lahan selama ini menghadapi berbagai kendala. Mulai dari kondisi tanah yang belum pulih, pemilihan jenis tanaman yang tak sesuai karakteristik tapak, hingga minimnya pemanfaatan mikroba tanah yang berperan penting mendukung pertumbuhan dan ketahanan tanaman.

Akumulasi kelemahan tersebut kata Enny, membuat rehabilitasi gagal memulihkan fungsi ekologis secara utuh. 

"Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dirumuskan suatu kerangka ilmiah yang disebut Rekosmik, yang menempatkan optimasi fungsi komunitas mikroba tanah sebagai fondasi utama restorasi lahan terdegradasi,” ujarnya.

Dijelaskannya, mikroba tanah memiliki peran strategis dalam menjaga kesehatan ekosistem. Selain berfungsi sebagai agen bioremediasi pada tanah tercemar, mikroba juga membantu tanaman bertahan pada kondisi lingkungan yang ekstrem serta meningkatkan efektivitas fitoremediasi dalam proses pemulihan lahan.

Melalui konsep Rekosmik, ameliorasi tanah dan inokulasi bibit menggunakan mikroba yang sesuai terbukti mampu meningkatkan keberhasilan revegetasi. 

Pendekatan tersebut juga mempercepat pemulihan tutupan lahan pada kawasan yang mengalami degradasi. Selain itu, Rekosmik berkontribusi meningkatkan serapan dan simpanan karbon tanah untuk mendukung pencapaian target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.

Dikatakannya, pendekatan Rekosmik memiliki empat pilar kebaruan ilmiah yang menjadi landasan. Pilar pertama, teori hubungan tumbuhan dan mikroba sebagai holobiont, yaitu kesatuan sistem biologis yang saling bergantung. 

Menurut konsep ini, keberhasilan penanaman tidak hanya ditentukan oleh tanaman itu sendiri, tetapi juga oleh komunitas mikroba yang hidup di sekitar perakarannya.

Pilar kedua, konsep runtuhnya fungsi mikroba tanah akibat deforestasi. Menurutnya, hilangnya tutupan vegetasi tidak hanya mengurangi jumlah pohon, tetapi juga menyebabkan terganggunya komunitas mikroba tanah yang berperan dalam siklus hara dan pemulihan ekosistem. 

Kerusakan tersebut menjadi semakin parah pada kawasan pertambangan terbuka yang kehilangan seluruh lapisan vegetasinya.

Pilar ketiga berkaitan dengan inovasi bioremediasi untuk mengatasi air asam tambang. Oksidasi mineral sulfida pada lahan bekas tambang dapat menghasilkan air asam yang menurunkan pH tanah dan meningkatkan kelarutan logam berat. 

Melalui pendekatan berbasis mikroba dan bahan organik, kondisi tersebut dapat diperbaiki secara lebih berkelanjutan dibandingkan metode penetralan konvensional.

Pilar keempat, model restorasi produktif Food, Feed, and Fuel (3F). Model ini mengintegrasikan tanaman pangan, pakan, dan tanaman energi dalam sistem agroforestri yang diperkuat oleh mikroba fungsional. 

Pendekatan tersebut memungkinkan restorasi ekosistem berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan rehabilitasi.

Seluruh kebaruan tersebut memiliki relevansi langsung terhadap pencapaian target FOLU Net Sink 2030. 

Rekayasa konsorsium mikroba dapat meningkatkan keberhasilan revegetasi pada lahan dengan kondisi ekstrem, sementara integrasi tanaman dan mikroba memungkinkan pemulihan lahan tercemar dilakukan secara lebih efektif. 

"Peningkatan serapan karbon dan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai secara simultan,” jelas Enny.

Ia menjelaskan, pemulihan lahan yang didukung mikroba tanah dapat membantu meningkatkan penyimpanan karbon. Meski demikian, implementasi Rekosmik pada skala operasional masih menghadapi sejumlah tantangan. 

“Tantangan tersebut antara lain keragaman kondisi biofisik lahan Indonesia memerlukan mikroba yang spesifik untuk setiap karakteristik tapak. Selain itu, ketersediaan bank mikroba nasional, formulasi bioinput, serta sistem aplikasi yang adaptif masih perlu diperkuat,” ujarnya.

Enny mendorong pengembangan strain mikroba adaptif tahan cekaman serta pembangunan konsorsium mikroba presisi yang disesuaikan dengan karakteristik setiap zona ekologi. 

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi geospasial, metagenomik, bioinformatika, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan artifisial untuk memahami dinamika mikrobioma tanah secara lebih mendalam. 

Menurutnya, pentingnya transformasi kebijakan restorasi dari pendekatan yang berfokus pada penanaman pohon menjadi pendekatan yang berbasis proses ekologis. 

Dalam kerangka tersebut, ameliorasi dan bioremediasi tanah perlu menjadi bagian integral dari rehabilitasi lahan kritis dan reklamasi tambang. * (junita sianturi)