Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BRIN Bantu Petani Kelola Usaha Tani Lebih Efisien Berbasis Digital

BRIN mendorong transformasi digital di sektor pertanian melalui penguatan sistem pencatatan usaha tani berbasis digital. foto: ist

SuaraTani.com - Cibinong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong transformasi digital di sektor pertanian melalui penguatan sistem pencatatan usaha tani berbasis digital. 

Langkah ini dinilai menjadi fondasi penting dalam meningkatkan efisiensi produksi, produktivitas, serta daya saing hortikultura nasional melalui pengambilan keputusan yang berbasis data. 

Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, menegaskan bahwa digitalisasi telah menjadi kebutuhan mendasar bagi sektor pertanian modern. 

Menurutnya, perkembangan teknologi dan dinamika pasar menuntut sistem produksi yang lebih adaptif, efisien, serta didukung oleh data yang akurat. 

"Digitalisasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan. Melalui teknologi, kita dapat membangun sistem produksi hortikultura yang lebih cerdas, terukur, dan berkelanjutan, mulai dari pencatatan input produksi, biaya operasional, hingga hasil panen," ujar Puji dalam siaran pers, Kamis (30/7/2026) di Cibinong.

Ia berharap aplikasi pencatatan usaha tani dapat memudahkan petani mendokumentasikan seluruh aktivitas usahanya. Namun, keberhasilan implementasi teknologi tersebut tetap membutuhkan pendampingan dan kolaborasi berbagai pihak agar literasi digital petani semakin meningkat.

Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, menjelaskan bahwa pencatatan digital bukan sekadar menggantikan metode konvensional, tetapi menjadi fondasi dalam membangun sistem produksi hortikultura yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

"Melalui pencatatan yang baik, petani dapat mengelola usaha taninya secara lebih efisien, mengetahui tingkat profitabilitas, serta mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat," jelas Dwinita.

Menurutnya, keberhasilan transformasi digital membutuhkan sinergi antara peneliti, akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan petani agar inovasi yang dikembangkan dapat diadopsi secara luas serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani.

Sementara itu, Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN, Abdul Latif, menekankan bahwa digitalisasi pencatatan merupakan upaya membangun budaya pengambilan keputusan berbasis data, bukan sekadar memindahkan catatan manual ke dalam aplikasi. 

"Ketika seluruh proses produksi tercatat dengan baik, petani dapat mengetahui biaya secara pasti, mengukur efisiensi, mengendalikan risiko, dan menyusun strategi produksi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Inilah fondasi menuju sistem hortikultura yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing," ungkapnya.

Abdul Latif menjelaskan bahwa pencatatan yang mencakup empat pilar utama, yakni input, proses, hasil, dan pemasaran, memungkinkan petani mengevaluasi efisiensi usaha secara menyeluruh. 

Produksi yang efisien, menurutnya, merupakan hasil dari sistem kendali yang dirancang secara baik, sehingga setiap faktor produksi dapat dikelola secara terintegrasi.

Sementara itu, Pendamping Aplikasi Digital Pertanian sekaligus pendiri Agribis.id, Wawan Dinawan, mengungkapkan bahwa tantangan utama digitalisasi usaha tani bukan pada teknologinya, melainkan perubahan budaya kerja. 

Banyak petani masih mengandalkan pengalaman turun-temurun dan menganggap pencatatan sebagai proses yang rumit. 

Ia memperkenalkan aplikasi Usaha Tani yang memungkinkan petani melakukan pencatatan secara real-time melalui telepon pintar. 

Aplikasi tersebut dilengkapi antarmuka yang sederhana, konsep One-Page One-Task, serta fitur gamifikasi yang dirancang untuk mempermudah adopsi teknologi di tingkat petani. Berikut link aplikasinya: https://play.google.com/store/apps/details?id=id.agribis.app

Melalui penguatan digitalisasi pencatatan usaha tani, BRIN berharap tercipta ekosistem pertanian hortikultura yang lebih modern, efisien, dan kompetitif. 

Dengan pengelolaan berbasis data, petani tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas dan keuntungan usaha, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan pertanian masa depan. * (junita sianturi)