SuaraTani.com - Jakarta| Program Kampung Nelayan Merah Putih dinilai penting sebagai langkah strategis pemerintah untuk mengubah kawasan pesisir dan perkampungan nelayan tradisional menjadi pemukiman yang layak huni, produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah pada Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Sri Nuryanti, dalam webinar bertajuk "Peran Riset dan Inovasi dalam Mendukung Pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih", Kamis (30/7/2026) di Jakarta.
Webinar digelar untuk membahas strategi penguatan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Sri Nuryanti menyampaikan, teknologi dan inovasi tidak boleh hanya berhenti di dalam laboratorium, melainkan harus hadir secara langsung di tengah masyarakat nelayan.
"Iptek harus dimanfaatkan dan turun menjadi solusi bagi masyarakat, untuk bisa ke laut masuk ke kapal-kapal nelayan maupun menyumbang pada denyut nadi kampung nelayan kita," ujarnya.
Menurutnya, tantangan nelayan saat ini untuk melaut semakin besar, mulai dari harga BBM yang fluktuatif, cuaca yang tidak stabil, hingga tantangan menjaga mutu kesegaran hasil tangkapan.
Karena itu sinergi BRIN bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diharapkan dapat membawa perubahan konkrit ke Kampung Nelayan Merah Putih.
“Sinergi tersebut bisa dilakukan melalui beberapa cara seperti Inovasi Kapal Hybrid (Layar & Panel Surya yang ini dirancang untuk menekan biaya solar nelayan hingga 76%. Sehingga pendapatan bersih yang dibawa pulang ke rumah dapat meningkat secara signifikan,” terangnya.
Inovasi berikutnya, Hilirisasi Rantai Dingin (Cold Storage), melalui penerapan teknologi pendingin berbasis energi guna memastikan kesegaran hasil tangkapan tahan lebih lama dan menguatkan posisi tawar nelayan.
Pemetaan Potensi Laut Berbasis Sains, dengan memanfaatkan data ilmiah kelautan untuk memprediksi tingkat kesuburan laut.
Membantu nelayan menentukan waktu dan lokasi melaut yang tepat, serta menganalisis ekosistem pesisir untuk budidaya modern yang ramah lingkungan.
Selanjutnya yaitu inovasi Hilirisasi Produk Olahan Dengan Menyediakan Formula Teknologi Pasca Produksi.
"Memberikan wawasan dan formula pengolahan bagi kelompok ibu rumah tangga di kawasan pesisir, agar mampu mengolah produk kelautan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Penguatan Tata Kelola, lanjutnya, berupa inovasi dengan membangun kemandirian tata pengelolaan kawasan pesisir agar para nelayan menjadi "tuan rumah" di tanah dan lautnya sendiri. Diharapkan dapat memperkuat daya tahan ekonomi warga saat cuaca buruk.
Ia berharap, webinar ini dapat memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan (multi stakeholder), termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pemerintah daerah, serta kalangan akademisi.
“Hasil riset dan inovasi juga diharapkan menjadi landasan utama bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan. Kemudian perencanaan, serta pengambilan keputusan berbasis bukti atau evidence-based policy,” tutup Sri Nuryanti. * (erna)


