Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BRIN Kembangkan Pewarna Alami Batik dari Kunyit dan Mahoni

BRIN menggandeng Cindur Batik, salah satu UMKM batik asal Batam menerapkan teknologi pewarnaan alami yang berasal dari kunyit dan mahoni. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Hingga saat ini, industri batik Tanah Air masih menghadapi tantangan besar, yaitu dari penggunaan pewarna sintetis yang mengandung bahan kimia berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Dalam menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng Cindur Batik, salah satu UMKM batik asal Batam yang mengembangkan batik berbasis kearifan lokal. 

Melalui kolaborasi ini Cindur Batik memperoleh pendampingan penerapan teknologi pewarnaan alami yang berasal dari kunyit dan mahoni, sebagai alternatif pengganti pewarna sintetis yang lebih ramah lingkungan. 

Salah satu tim pendamping dari BRIN, Suci Woelanda sebagai Analis Pemanfaatan Iptek Ahli Muda menjelaskan bahwa misi utama program ini adalah standardisasi. 

"Tujuan kami adalah membawa kearifan lokal ke level industri yang terukur. Kami mendampingi UMKM untuk memahami teknik ekstraksi dan penggunaan bahan pengikat (mordant) yang tepat agar warna alami ini tidak hanya cantik di mata, tapi juga tangguh secara kualitas sesuai standar internasional," jelas Suci melalui pesan tertulisnya, Rabu (1/7/2026). 

Dalam pemanfaatannya, kunyit atau Curcuma longa menghasilkan warna kuning cerah yang legendaris, sementara kulit kayu mahoni atau Swietenia macrophylla memberikan kesan cokelat yang hangat dan elegan. 

Meski menawarkan keunggulan dari sisi keberlanjutan lingkungan, pemanfaatan pewarna alami masih kerap dihadapkan pada kekhawatiran mengenai ketahanan warnanya. 

Karena itu, BRIN melakukan serangkaian pengujian berdasarkan standar SNI/ISO untuk memastikan kualitas dan ketahanan warna batik, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasar dan meningkatkan daya saing UMKM. 

Sementara itu pendamping BRIN lainnya, Donny Hermawan Analis Kebijakan Ahli Muda menyatakan, pengujian dilakukan mengacu pada standar SNI/ISO 105 untuk mengetahui ketahanan warna batik terhadap berbagai kondisi.

“Seperti pencucian, gosokan, keringat, panas setrika, hingga paparan sinar matahari. Melalui pengujian ini, kami dapat memastikan bahwa pewarna alami ini ramah lingkungan, dan memenuhi standar mutu yang dibutuhkan konsumen," ujarnya.

Kolaborasi ini tidak berhenti pada riset di laboratorium, BRIN menekankan pentingnya penyuluhan dan pelatihan bagi para pengrajin batik. 

Pelaku UMKM dibekali teknik penggunaan mordant (bahan pengikat warna) seperti tawas atau tanin untuk meningkatkan ketahanan warna terhadap sinar matahari dan pencucian. 

Para pengrajin juga didorong untuk mengeksplorasi kombinasi warna alami lainnya, seperti daun indigo atau mangga. Demi menghasilkan variasi motif yang lebih kaya dan menarik pembeli. 

Sri Ekowati Budi Rahayu pemilik Cindur Batik, mengaku memperoleh banyak manfaat dari program pendampingan tersebut. 

Menurutnya, penerapan teknologi pewarna alami membuka peluang baru bagi pengembangan produk batik yang memiliki nilai tambah dan daya tarik tersendiri bagi konsumen. 

"Melalui pendampingan BRIN ini, kami memperoleh wawasan baru mengenai teknik pewarnaan alami dan pengendalian kualitas produk. Inovasi ini menjadi peluang bagi kami untuk menghadirkan batik yang lebih ramah lingkungan sekaligus memiliki ciri khas yang berbeda," ungkapnya. 

Kolaborasi antara BRIN dan Cindur Batik menjadi contoh nyata bagaimana riset, inovasi, dan kearifan lokal dapat berpadu dalam menciptakan produk yang bernilai tambah. 

Di samping untuk mendukung penguatan UMKM, pendampingan ini juga mendorong terwujudnya industri batik yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, dan berdaya saing. 

Dengan dukungan riset dari BRIN, batik karya Cindur Batik kini tidak hanya unggul secara estetika, tetapi juga memiliki nilai jual lebih sebagai produk yang ramah lingkungan dan berkualitas internasional. * (erna)