Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

NTP Tanaman Pangan Capai 114,65, Tertinggi Sepanjang 2026

Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional sampai Juni 2026 masih mencatatkan progres yang positif. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional sampai Juni 2026 masih mencatatkan progres yang positif. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap, proyeksi produksi beras Indonesia sampai Agustus mengalami peningkatan. Ini linier terhadap NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) Juni 2026 yang juga semakin tinggi.

"Produksi beras sepanjang Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 diperkirakan mencapai 25,28 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 0,01 juta ton atau meningkat 0,05 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Peningkatan produksi tersebut berjalan seiring dengan membaiknya kesejahteraan petani. BPS mencatat NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) Juni 2026 mencapai 114,65, menjadi yang tertinggi sepanjang 2026 dan tertinggi sejak Maret 2024.

"Dari subsektornya (NTP), hanya subsektor tanaman pangan yang mengalami peningkatan NTP di bulan Juni," sebut Ateng.

Dikatakannya, kenaikan NTPP ini dipengaruhi meningkatnya indeks harga yang diterima petani, terutama pada kelompok padi yang naik 1,13 persen dan kelompok palawija (jagung dan ketela pohon) yang meningkat 1,05 persen. 

Tidak hanya itu, indeks harga yang diterima petani padi hingga Juni 2026 tercatat mencapai 149,65, menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Dalam berbagai kesempatan, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan) mengatakan, pemerintah senantiasa berada di tengah-tengah antara petani dan konsumen di hilir. 

Kepentingan petani pangan harus dilindungi karena merupakan garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan.

"Ini kan kita harus berada di tengah, harus menjaga petani 115 juta jiwa. Konsumen juga harus bahagia. Kita harus jaga harga petani apalagi saudara kita ini yang menjadi benteng terakhir pertahanan pangan kita," kata Amran.

Sebagai strategi nyata menjaga harga petani, pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk menyerap setara beras yang bersumber dari produksi dalam negeri. Targetnya setidaknya sampai akhir tahun 2026 di angka 4 juta ton.

Masifnya penyerapan setara beras produksi dalam negeri ini cukup beralasan karena terdapat surplus produksi terhadap konsumsi yang signifikan. 

Dalam data BPS yang terbaru, proyeksi produksi beras Januari sampai Juni dapat mencapai 19,27 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi beras Januari-Juni diperkirakan 15,48 juta ton. Dengan demikian terdapat surplus 3,79 juta ton.

Dalam catatan Bapanas, realisasi penyerapan setara beras oleh Perum Bulog sampai akhir Juni 2026 telah mencapai 3,3 juta ton. Ini terdiri dari stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 3,25 juta ton dan selebihnya stok komersial sebanyak 50,8 ribu ton.

Capaian tersebut pun telah melampaui realisasi penyerapan beras Bulog di periode Januari-Juni tahun 2025 yang berada di angka 2,68 juta ton. Peningkatannya sebanyak 23,1 persen dan dipastikan sepenuhnya merupakan beras hasil panen petani Indonesia.

Alhasil, harga petani pun dapat terjaga dengan tidak terjadi jatuhnya harga Gabah Kering Panen (GKP) di saat pasokan melimpah. Hal ini dapat tercermin dari hasil pemantauan harga GKP secara nasional yang dilakukan Bapanas.

Per 1 Juli 2026, rerata GKP di tingkat petani secara nasional berada di level Rp6.989 per kilogram (kg). Ini meningkat 0,14 persen dibandingkan sebulan lalu yang berada di rerata harga Rp6.979 per kg dan menguat 3,74 persen dibandingkan setahun sebelumnya yang kala itu berada di Rp6.737 per kg. * (junita sianturi)