Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Peneliti BRIN Ungkap Rahasia Merawat Anggrek

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Richa Kusuma Wati, menjelaskan bahwa langkah pertama dalam merawat anggrek adalah mengenali jenisnya. foto: ist

SuaraTani.com - Cibinong| Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Richa Kusuma Wati, menjelaskan bahwa langkah pertama dalam merawat anggrek adalah mengenali jenisnya. 

Setiap spesies memiliki kebutuhan cahaya, media tanam, dan kelembapan yang berbeda sehingga teknik perawatannya tidak dapat disamaratakan.

"Setiap jenis anggrek memiliki karakteristik tersendiri. Ada yang menyukai sinar matahari penuh, ada yang membutuhkan naungan, ada yang hidup sebagai epifit di pohon inang, bahkan ada yang tumbuh di tanah. Karena itu, cara perawatannya tidak bisa disamakan," jelas Richa dalam siaran pers, Senin (13/7/2026) di Cibinong.

Dalam acara Expo Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Cibinong baru-baru ini, Richa mengenalkan beberapa jenis anggrek yang populer, seperti Dendrobium, Phalaenopsis, Vanda, dan Paphiopedilum. 

Ia menjelaskan bahwa Vanda memerlukan paparan sinar matahari langsung dan umumnya ditanam menggantung tanpa media tanam yang padat. 

Dendrobium membutuhkan cahaya cukup dengan media tanam berpori, seperti arang, pecahan genting, atau kulit pinus (pine bark), agar akar memperoleh sirkulasi udara yang baik dan tidak mudah membusuk.

Sementara, Phalaenopsis atau anggrek bulan lebih cocok ditempatkan di area teduh dengan cahaya tidak langsung dan sirkulasi udara yang baik karena sensitif terhadap sinar matahari langsung. 

Adapun Paphiopedilum sebagai anggrek terestrial memerlukan media tanah atau lumut yang lembap dengan penyiraman yang lebih hati-hati agar terhindar dari pembusukan akar.

Richa juga menyarankan penyiraman dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terik agar tanaman dapat menyerap air secara optimal. 

Pada kondisi cuaca panas, terutama untuk Phalaenopsis, penyiraman dapat dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore."Yang terpenting bukan hanya seberapa sering disiram, tetapi menyesuaikan kebutuhan masing-masing jenis anggrek dan kondisi lingkungannya," ujarnya.

Ia membagikan kiat agar anggrek kembali berbunga setelah masa pembungaan selesai. Ia menyarankan tangkai bunga yang telah layu dipotong agar energi tanaman dialihkan untuk pertumbuhan daun dan akar. 

Setelah itu, tanaman diberikan pupuk daun secara rutin sebelum memasuki fase pemberian pupuk bunga.

"Tanaman perlu membangun pertumbuhan vegetatifnya terlebih dahulu. Jangan hanya diberi pupuk bunga terus-menerus karena hasil pembungaannya justru tidak akan optimal," katanya.

Tak hanya membahas teknik budidaya, Richa mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan anggrek terbesar di dunia, dengan sekitar 5.000 spesies anggrek alam. 

Salah satu penemuan terbaru peneliti BRIN adalah Chiloschista tjiasmantoi, spesies anggrek tanpa daun yang berasal dari Aceh. Selain itu, publikasi terbaru BRIN juga mencatat sepuluh rekaman baru anggrek yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.

Menurutnya, kekayaan tersebut merupakan aset biodiversitas nasional yang harus dijaga melalui penelitian dan konservasi. 

Di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, berbagai spesies anggrek dari seluruh Indonesia terus dikoleksi, dipelajari, didokumentasikan, dan dikonservasi untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.

Mengenai budidaya anggrek dataran tinggi di dataran rendah, Richa menjelaskan bahwa keberhasilan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh mikroklimat, seperti suhu, kelembapan, intensitas cahaya, sirkulasi udara, dan ketinggian tempat. 

Tanaman mungkin masih dapat tumbuh, tetapi pembungaan akan sulit terjadi apabila kondisi lingkungan tidak menyerupai habitat alaminya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengendalian hama dan penyakit, seperti jamur, busuk akar, kumbang, dan siput, melalui perawatan rutin, sanitasi media tanam, serta penggunaan pestisida secara bijaksana.

Richa berharap semakin banyak inovasi yang dikembangkan untuk mendukung pelestarian anggrek Indonesia, khususnya spesies endemik yang kini menghadapi ancaman kehilangan habitat.

"Saya berharap semakin banyak teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan anggrek-anggrek asli Indonesia, khususnya spesies yang langka dan endemik. Semoga semakin banyak peneliti muda maupun masyarakat yang ikut berkontribusi dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia agar tetap lestari," pungkasnya. * (junita sianturi)