SuaraTani.com - Jakarta| Ketahanan pangan Indonesia tidak cukup hanya ditopang oleh peningkatan produksi, dibutuhkan perubahan mendasar pada cara mengelola agribisnis jagung.
Mulai dari penyediaan benih, budidaya, pascapanen, hingga pemasaran agar petani memperoleh nilai tambah yang lebih besar.
Gagasan inilah yang menjadi benang merah orasi ilmiah Bahtiar, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular, yang berjudul "Reformulasi Sistem Agribisnis Jagung Berbasis Rantai Nilai dalam Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional yang Inklusif dan Berkelanjutan".
Orasi ilmiah itu disampaikan Bahtiar saat pengukuhan Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Menurut Bahtiar, jagung bukan sekadar komoditas pertanian. Selama lebih dari empat dekade berkecimpung dalam riset sosial ekonomi pertanian, ia melihat langsung bagaimana petani menghadapi persoalan produktivitas, fluktuasi harga, hingga lemahnya posisi tawar di pasar.
Pengalaman panjang mendampingi pengembangan agribisnis jagung di berbagai daerah menjadi fondasi lahirnya konsep reformasi agribisnis yang diusungnya.
"Reformulasi sistem agribisnis jagung bukan sekadar agenda peningkatan produksi, melainkan transformasi menyeluruh menuju sistem pangan nasional yang tangguh, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan," tegas Bahtiar dalam orasinya.
Menurutnya, tantangan ketahanan pangan nasional masih dipengaruhi oleh belum terintegrasinya aspek lingkungan, ekonomi, sosial, dan kebijakan.
Kondisi tersebut diperburuk oleh inefisiensi rantai pasok, alih fungsi lahan pertanian, serta dampak perubahan iklim yang menekan produktivitas.
Di sisi lain, jagung memiliki posisi strategis karena tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga bahan baku utama industri pakan yang menyerap lebih dari 70% produksi nasional.
Berangkat dari kondisi tersebut, Bahtiar menawarkan reformasi agribisnis jagung berbasis rantai nilai yang mengintegrasikan tiga pilar utama, yakni sistem produksi, pascapanen, dan pemasaran.
Menurutnya, ketiga subsistem tersebut harus saling terhubung agar mampu meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Ia menjelaskan bahwa transformasi teknologi telah membawa perubahan besar pada budidaya jagung melalui penggunaan varietas unggul, mekanisasi, pertanian presisi, hingga digitalisasi rantai pasok.
Namun, inovasi teknologi harus dibarengi dengan penguatan kelembagaan petani, koperasi, kemitraan dengan industri, serta kebijakan yang mampu menciptakan pasar yang lebih adil bagi petani.
Bahtiar juga menggarisbawahi pentingnya membangun kawasan jagung berbasis rantai nilai, memperkuat hilirisasi, mempercepat adopsi inovasi, serta meningkatkan kapasitas petani melalui sistem penyuluhan yang terintegrasi.
Langkah tersebut diyakini mampu menciptakan agribisnis jagung yang lebih adaptif terhadap dinamika global sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.
Di balik berbagai gagasan strategis tersebut, perjalanan Bahtiar sendiri menjadi cerminan dedikasi panjang terhadap dunia pertanian.
Lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan, ia memulai karier sebagai tenaga honorer di Balai Penelitian Tanaman Pangan Maros sebelum berkarier menjadi Peneliti Ahli Utama dan akhirnya dikukuhkan sebagai Profesor Riset BRIN.
Selama perjalanan itu, ia telah menghasilkan 88 publikasi ilmiah, membimbing banyak peneliti muda dan mahasiswa, serta aktif mengembangkan agribisnis jagung di berbagai wilayah Indonesia.
Bagi Bahtiar, keberhasilan riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Nilai sesungguhnya dari sebuah penelitian adalah ketika inovasi mampu diterapkan di lapangan, memperkuat daya saing pertanian nasional, dan menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan petani.
Pesan itulah yang menjadi inti orasi ilmiahnya sekaligus menegaskan peran riset sebagai penggerak transformasi menuju sistem agribisnis jagung yang lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan. * (junita sianturi)


