SuaraTani.com - Yogyakarta| Pengaturan suhu dan konsentrasi oksigen pada sistem Modified Atmosphere Storage (MAS) mampu mempertahankan kualitas benih bawang merah selama penyimpanan.
Temuan ini membuka peluang penerapan teknologi pascapanen yang lebih efektif untuk menjaga mutu benih, mengurangi kehilangan hasil, serta mendukung ketersediaan benih berkualitas bagi petani.
Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nugroho Siswanto, mengatakan bawang merah memiliki umur simpan relatif pendek akibat tingginya laju respirasi dan aktivitas metabolisme setelah panen.
Kondisi tersebut menyebabkan kualitas benih mudah menurun apabila tidak disimpan pada kondisi yang tepat.
Ia bersama peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menganalisis pengaruh lama penyimpanan, suhu, dan konsentrasi oksigen terhadap kualitas benih bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum L. Back) menggunakan teknologi MAS.
Hasil penelitian menunjukkan pengaruh suhu penyimpanan terhadap kualitas benih bawang merah jauh lebih besar dibandingkan konsentrasi oksigen.
"Kombinasi suhu rendah 5 derajat Celsius dengan konsentrasi oksigen 5 persen memberikan kondisi penyimpanan terbaik untuk mempertahankan mutu benih,” kata Nugroho dalam siaran pers, Rabu (1/7/2026).
Penelitian tersebut menggunakan rancangan three-way repeated measures dengan tiga faktor utama, yaitu lama penyimpanan selama sembilan minggu, suhu penyimpanan 5°C, 15°C, dan 28°C, serta konsentrasi oksigen sebesar 5 persen, 10 persen, dan 21 persen.
Selama penyimpanan, tim peneliti mengamati berbagai parameter kualitas, meliputi warna umbi (L*, a*, b*), hue angle, kroma, perbedaan warna (total color difference), kandungan padatan terlarut (total soluble solids), serta tingkat kekerasan umbi.
Hasil penelitian menunjukkan selama penyimpanan terjadi peningkatan nilai komponen warna b*, hue angle, perbedaan warna, dan kandungan padatan terlarut.
Sebaliknya, tingkat kecerahan warna (L*), komponen warna a*, nilai kroma, dan kekerasan umbi mengalami penurunan. Namun, perubahan tersebut dapat ditekan melalui pengaturan suhu dan komposisi atmosfer selama penyimpanan.
Nugroho menjelaskan perlakuan penyimpanan pada suhu 5 derajat Celsius dengan konsentrasi oksigen 5 persen memberikan hasil terbaik dalam mempertahankan mutu benih.
Perlakuan tersebut mampu menjaga kekerasan umbi tetap tinggi sekaligus memperlambat perubahan warna dan peningkatan kandungan padatan terlarut dibandingkan perlakuan lainnya.
“Teknologi MAS pada suhu rendah dan kadar oksigen rendah berpotensi menjadi solusi untuk memperpanjang umur simpan benih bawang merah tanpa menurunkan kualitasnya secara signifikan. Teknologi ini dapat diterapkan sebagai sistem penyimpanan benih yang lebih efisien sehingga mendukung produktivitas pertanian nasional,” jelasnya.
Teknologi MAS bekerja dengan mengatur komposisi gas di dalam ruang penyimpanan sehingga laju respirasi dan proses metabolisme hasil pertanian dapat diperlambat.
Dengan menekan aktivitas fisiologis tersebut, kualitas produk dapat dipertahankan lebih lama dibandingkan penyimpanan konvensional.
Penerapan teknologi penyimpanan yang tepat diharapkan mampu mengurangi kehilangan hasil pascapanen, menjaga ketersediaan benih bermutu bagi petani, serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Hasil riset ini telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Agricultural and Food Research Journal pada 8 April 2026. * (junita sianturi)


