SuaraTani.com - Jakarta| Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, bersama Korea International Cooperation Agency (KOICA), dan United Nations Population Fund (UNFPA) meluncurkan proyek “Strengthening Professional Education and Enhanced Policy Framework for Midwifery Development in Indonesia (SPEED).”
Inisiatif ini merupakan komitmen strategis untuk mentransformasi kualitas pendidikan kebidanan dan penyediaan layanan klinis.
Memastikan bahwa setiap persalinan di Indonesia ditangani bidan yang sepenuhnya kompeten untuk menangani keadaan darurat obstetri yang menyelamatkan jiwa.
Di mana Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat Angka Kematian Ibu (AKI) turun menjadi 144 per 100.000 kelahiran hidup, dari 189 di tahun 2020 (Sensus Penduduk, 2020).
Ini berarti setiap 1-2 jam seorang ibu di Indonesia kehilangan nyawanya akibat komplikasi terkait kehamilan, persalinan, atau masa nifas.
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Kemenkes, Yuli Farianti mengatakan, tahun 2029, Pemerintah berkomitmen menurunkan angka kematian ibu menjadi kurang dari 77/100. 000 kelahiran hidup per tahun.
Untuk mencapai target tersebut, penguatan kompetensi bidan menjadi sangat penting.
"Kami meyakini bahwa investasi pada pendidikan bidan merupakan investasi bagi masa depan bangsa,” kata Yuli dalam peluncuran proyek SPEED, Kamis (9/7/2026) di Jakarta.
Dikatakannya, bidan yang kompeten akan berkontribusi langsung dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi, sekaligus memperkuat sistem kesehatan Indonesia.
"Melalui kemitraan antara Kemenkes, KOICA, dan UNFPA, kami berharap penguatan pendidikan profesi kebidanan dapat menjadi tonggak penting dalam meningkatkan mutu dan profesionalisme bidan Indonesia. Sehingga setiap ibu, di mana pun berada, memperoleh pelayanan yang aman, berkualitas, dan berkesinambungan,” ujanya.
Proyek SPEED menjawab masalah inti kompetensi kebidanan dengan berfokus pada dua pilar, yaitu mereformasi pendidikan pra-jabatan di 12 Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes agar memenuhi standar internasional yang ditetapkan oleh International Confederation of Midwives (ICM).
Serta, membangun platform nasional digital untuk Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Memperkuat 12 Poltekkes sebagai acuan nasional bagi pendidikan kebidanan yang berkualitas.
Sistem ini kata Yuli, akan membekali bidan dengan keterampilan penting yang menyelamatkan jiwa, termasuk Penanganan Gawat Darurat Obstetri dan Bayi Baru Lahir (PONEK) serta respons terhadap kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan (KTP/AP).
Hal ini memastikan tenaga kerja bidan nasional yang berjumlah lebih dari 358.892 orang didukung, diperbarui, dan siap memberikan layanan yang memenuhi tolok ukur global.
“UNFPA dengan bangga mendukung Indonesia dalam perjalanan kebidanan yang transformatif ini. Melalui kemitraan ini, kita melangkah lebih jauh dari sekadar kuantitas untuk memprioritaskan kualitas pelayanan,” kata Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia, Hassan Mohtashami.
Dikatakannya, bidan adalah garda terdepan dalam mengurangi kematian ibu.
"Dengan menstandarisasi pendidikan kebidanan dan menciptakan ekosistem digital yang permanen untuk pertumbuhan profesional, kita memastikan setiap ibu menerima layanan aman dan berkualitas tinggi yang pantas mereka dapatkan," jelasnya.
Kemitraan ini menggabungkan keahlian teknis UNFPA, komitmen kelembagaan Kementerian Kesehatan, dan dukungan strategis KOICA untuk menciptakan model yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di seluruh negeri.
“Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam meningkatkan kesehatan ibu, dan langkah berikutnya adalah memastikan setiap ibu memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang terlatih dengan baik,” kata Country Director KOICA Indonesia Office, Kim Hyo Jin.
Dikatakannya, melalui proyek SPEED, KOICA bangga bermitra dengan Kemenkes dan UNFPA untuk memperkuat sistem pendidikan kebidanan di Indonesia serta membangun fondasi yang berkelanjutan bagi kehamilan yang lebih aman, persalinan yang lebih selamat, dan masyarakat yang lebih sehat.
Proyek SPEED yang akan berlangsung hingga tahun 2030 ini ditargetkan memberikan manfaat langsung kepada sekitar 8.280 mahasiswa dan instruktur kebidanan, sekaligus mendukung kesejahteraan jutaan keluarga di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. * (junita sianturi)


