SuaraTani.com - Cibinong| Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bramantyo Wikantyoso, menyatakan, pengendalian rayap bawah tanah tidak ideal jika hanya dilakukan pada titik serangan.
Strategi perlu mempertimbangkan area yang lebih luas, karena satu koloni dapat membentuk beberapa sarang baru di bawah permukaan tanah yang dapat terhubung atau terpisah dari sarang utama.
Menurut Bramantyo, pentingnya memahami perilaku sosial rayap dalam menentukan strategi pengendalian yang efektif. Rayap bawah tanah, misalnya, dapat memiliki lebih dari satu sarang.
Selain sarang utama, terdapat satellite nest yang dapat menjadi tempat keberadaan individu reproduktif sekunder.
“Pemahaman ini akan menentukan efektivitas dan rencana pengendalian dalam jangka menengah-panjang,” katanya dalam siaran pers, Sabtu (12/9/2026) di Cibinong.
Bramantyo mengatakan, adanya perilaku burial dan secondary repellent pada rayap bawah tanah. Perilaku-perilaku tersebut dapat menyebabkan terbentuknya penghalang di dalam terowongan rayap tanah menuju ke area pengaplikasian termitisida.
Penggunaan termitisida yang membunuh rayap secara cepat berpotensi menyebabkan penumpukan bangkai pada area perimeter perlakuan dan memicu efek penolakan sekunder (secondary repellency).
“Karakteristik tanah bukan satu-satunya faktor yang menentukan pengelolaan populasi rayap. Perilaku rayap juga menjadi faktor penting,” ucapnya.
Karena itu, pemahaman terhadap spesies rayap yang menjadi sasaran pengendalian menjadi bagian penting dalam menentukan pendekatan yang tepat.
“Mengidentifikasi spesies rayap yang terlibat dalam pengelolaan populasi bukan sekadar persoalan taksonomi. Hal ini penting untuk memahami hama yang menjadi sasaran sebelum menentukan perlakuan,” tegasnya.
Bramantyo menyampaikan, penggunaan termitisida sebagai salah satu metode pengendalian juga perlu memperhatikan karakteristik tanah.
Hal ini penting untuk menjaga efektivitas bahan pengendali sekaligus meminimalkan risiko pencemaran lingkungan oleh bahan kimia melalui proses pelindian (leaching).
Menurutnya, sifat tanah dapat memengaruhi keberadaan dan keragaman rayap, khususnya kelompok rayap pemakan tanah.
Perbedaan tekstur dan komposisi tanah juga dapat memengaruhi bagaimana bahan pengendali rayap berinteraksi dengan lingkungan.
“Setiap wilayah dapat memiliki permasalahan rayap yang sama, tetapi dengan karakteristik tanah yang berbeda. Karena itu, perlakuan pengendalian rayap juga perlu disesuaikan berdasarkan profil wilayahnya,” ujar Bramantyo.
Ia menjelaskan, tanah berpasir adalah tipe tanah yang memiliki porositas tinggi dan kemampuan menahan air yang rendah, sehingga bahan kimia lebih mudah mengalami pencucian.
Sebaliknya, tanah liat memiliki luas permukaan dan muatan negatif yang tinggi sehingga mampu mengikat bahan kimia lebih kuat dan mengurangi mobilitasnya.
Sementara itu, kandungan bahan organik juga berpengaruh terhadap retensi, mobilitas, dan toksisitas bahan kimia di dalam tanah.
“Afinitas pengikatan termitisida dengan tanah menjadi salah satu hal penting untuk mencegah pencucian dan penguapan, sekaligus memperpanjang keberadaan bahan kimia di dalam tanah,” jelasnya.
Ia menerangkan sebagian besar termitisida yang terdaftar di Indonesia merupakan bahan kimia yang diaplikasikan pada tanah dan ditujukan untuk mengendalikan rayap bawah tanah, antara lain Coptotermes gestroi dan Coptotermes curvignathus.
Termitisida terdaftar tersebut adalah bahan-bahan yang digunakan pada kawasan perkotaan dan pertanian yang memiliki karakteristik tanah berbeda.
Kondisi lingkungan juga perlu diperhitungkan, termasuk wilayah rawan banjir. Genangan dapat memengaruhi keberadaan dan efektivitas termitisida di dalam tanah.
Hasil kajian menunjukkan bahan kimia dengan karakteristik tertentu memiliki kemampuan bertahan lebih baik setelah terpapar banjir. Sementara beberapa bahan lainnya lebih berpotensi mengalami pelindian. * (junita sianturi)


