SuaraTani.com - Cibinong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan riset genetika dan pemuliaan untuk mendukung pemanfaatan kekayaan biodiversitas ikan air tawar Indonesia sebagai sumber daya genetik bagi industri ikan hias yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT) BRIN, Eni Kusrini, mengatakan Indonesia memiliki sekitar 1.300 spesies ikan air tawar yang berpotensi dikembangkan, termasuk sebagai sumber daya genetik ikan hias.
Arwana, rainbow fish, rasbora, wild betta, dan botia merupakan beberapa di antaranya.
“Biodiversitas merupakan modal genetik sekaligus bank gen alami yang menyediakan berbagai alel unggul untuk pengembangan varietas,” jelas Eni dalam siaran pers, Kamis (1/10/2026) di Cibinong.
Menurut Eni, sebagian ikan hias Indonesia masih diperoleh melalui eksploitasi dari alam untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan berbasis riset melalui domestikasi, seleksi, dan pemuliaan untuk menghasilkan strain yang stabil, produktif, adaptif, dan berkualitas.
Sejalan dengan itu, perkembangan genetika molekuler dan genomik membuka peluang penerapan pemuliaan berbasis data.
Sejumlah pendekatan, seperti marka DNA, single nucleotide polymorphism (SNP), genome-wide association study (GWAS), transcriptomics, dan genomic selection, dapat dimanfaatkan untuk memahami keragaman genetik sekaligus memilih dan mempertahankan karakter unggul.
Eni menjelaskan, pembentukan varietas unggul membutuhkan tahapan yang panjang dan berkelanjutan. Prosesnya mencakup eksplorasi sumber daya genetik, domestikasi spesies potensial, karakterisasi genetik, seleksi, pemuliaan, hingga hilirisasi menjadi benih, strain, dan produk ikan hias bernilai ekonomi.
“Program pemuliaan tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan proses panjang dan berkelanjutan untuk menjaga keragaman genetik sekaligus menghasilkan varietas unggul,” ujarnya.
Dalam proses tersebut, pengelolaan sumber daya genetik perlu berjalan bersama dengan konservasi in situ dan ex situ, sistem dokumentasi, serta pemanfaatan data genetik untuk penelitian dan program pemuliaan.
Pendekatan ini dapat mendukung pemanfaatan biodiversitas dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya genetik.
Upaya berbasis riset tersebut juga perlu ditopang oleh keterhubungan antara lembaga riset, pembudidaya, pelaku usaha, pemerintah, dan pasar.
Guru Besar Politeknik Ahli Usaha Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Maman Hermawan, mengatakan model kemitraan pentahelix yang melibatkan pemerintah, lembaga riset dan akademisi, pelaku usaha, komunitas, serta media dapat menjadi kerangka untuk memperkuat koordinasi, standardisasi mutu, integrasi data, pembiayaan, dan promosi ikan hias Indonesia.
Kebutuhan penguatan ekosistem tersebut juga berkaitan dengan akses produk ikan hias Indonesia ke pasar global.
Ketua Asosiasi Eksportir Ikan Hias Indonesia, Teguh Minarno Wijaya menyampaikan bahwa kinerja ekspor ikan hias Indonesia menunjukkan peluang yang besar, tetapi masih perlu didukung standardisasi mutu, sertifikasi kesehatan ikan, kontinuitas pasokan, kemudahan layanan ekspor, serta promosi dan branding produk Indonesia.
Sinergi antara riset, sentra budidaya, asosiasi, eksportir, dan infrastruktur pendukung, termasuk Raiser Ikan Hias, diharapkan dapat memperkuat rantai nilai dari sumber daya genetik hingga produk ikan hias bernilai tambah untuk pasar domestik dan internasional. * (junita sianturi)


