SuaraTani.com - Roma| Indonesia mempromosikan beragam produk pertanian unggulannya dalam edisi kedua pameran global From Seeds to Foods yang diselenggarakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 8-12 Oktober 2026 di Roma, Italia.
Indonesia bergabung dengan lebih dari 140 negara untuk memamerkan inovasi pertaniannya di Circo Massimo, situs bersejarah di pusat kota Roma.
Pameran ini dibuka oleh Direktur Jenderal FAO QU Dongyu sebagai penanda dimulainya rangkaian peringatan Hari Pangan Sedunia, yang jatuh pada tanggal 16 Oktober setiap tahunnya.
Mengusung tema ‘Mendorong Inovasi untuk Ketahanan Pangan dan Gizi’, pameran ini mengeksplorasi bagaimana inovasi, teknologi, pengetahuan lokal, dan kemitraan dapat mentransformasi sistem pangan pertanian, mulai dari tahap produksi hingga pangan yang tersaji di meja makan kita.
Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Italia sekaligus Perwakilan Tetap Indonesia untuk FAO, Junimart Girsang mengatakan, Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia merasa senang dapat berpartisipasi dalam acara From Seeds to Food s, yang turut mendukung para petani kecil dan produsen.
Melalui acara ini pula, Kedubes mengajak pengunjung mengenal warisan masyarakat pertanian Indonesia lewat talkshow serta pertunjukan budaya unik yang menampilkan kain dan alat musik tradisional.
Pertunjukan itu mencerminkan kearifan lokal tentang penghormatan dan harmoni dengan alam.
"Kami juga mengundang pengunjung untuk menikmati kekayaan cita rasa Indonesia dalam program mencicipi makanan dan demonstrasi memasak," ujar Junimart.
Ratusan warga Italia dan pengunjung dari berbagai negara mencicipi cita rasa Indonesia melalui minuman berbahan daun kelor, kopi, keripik buah tropis, dan camilan tradisional.
Selain itu juga hidangan berbahan dasar nasi dan kaya rempah yang disiapkan oleh Monalisa Ali dan Retno Pancaningrum, koki Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma.
Indonesia juga menampilkan beragam produk unggulan khas tanah air, mulai dari talas Beneng asli Banten; mangga gedong gincu premium dari Majalengka, Jawa Barat.
Kemudian, pala dan cengkih dari Kepulauan Rempah Maluku; hingga sarang burung walet siap ekspor dan madu premium, serta berbagai produk lainnya.
Daun kelor, sebagai salah satu komoditas unggulan, dihadirkan dalam berbagai produk bernilai tambah, yang menunjukkan bagaimana sumber daya hasil budidaya lokal dapat diolah menjadi produk makanan ( superfood ) dan minuman inovatif.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengatakan, keberagaman tanaman, pengetahuan pertanian, dan tradisi pangan Indonesia menjadi landasan kuat untuk meningkatkan ketahanan pangan serta menciptakan nilai tambah bagi para petani.
"Untuk tahun kedua berturut-turut, partisipasi kami dalam acara From Seeds to Foods ini memperlihatkan bagaimana sumber daya tersebut dapat diolah melalui inovasi, pemrosesan, dan penambahan nilai menjadi produk baru serta peluang pasar," jelasnya.
Hal ini menurut Suwandi, mencerminkan komitmen berkelanjutan Indonesia dalam memperkuat kemandirian pangan, hilirisasi pertanian, dan kemitraan internasional.
Dikatakannya, berbagai produk Indonesia yang dipamerkan juga mencerminkan kerja sama jangka panjang dengan FAO dalam mewujudkan prinsip 4Betters: produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik, tanpa meninggalkan siapa pun.
Kementan dan FAO berupaya melestarikan keanekaragaman tanaman Indonesia bersama masyarakat lokal dengan menyasar berbagai komoditas.
Seperti pala dan cengkih dari Maluku Utara guna menjamin ketahanan pangan dan penghidupan yang berkelanjutan, dengan dukungan dari Global Environment Facility .
Melalui inisiatif One Country One Priority Product dari FAO, para petani pisang mas kirana di Lumajang mendapatkan dukungan untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, keberlanjutan, serta kesiapan pasar mereka.
Demikian juga para petani mangga Indonesia yang dapat mempelajari metode produksi yang inovatif dan berkelanjutan melalui fasilitasi FAO dalam Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular, yang memungkinkan pertukaran dan berbagi pengetahuan dengan Filipina, salah satu eksportir mangga terbesar di Asia.
Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste , mengapresiasi pameran ini sebagai kesempatan istimewa untuk menampilkan inovasi pertanian dan pangan Indonesia di panggung global.
Sehingga masyarakat internasional dapat belajar dari solusi praktis dan berbasis akar rumput yang diterapkan Indonesia dalam menghadapi tantangan sektor pertanian dan pangan.
"Diprakarsai oleh pemerintah Indonesia, FAO, dan petani kecil di seluruh penjuru nusantara, berbagai inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi dapat mengubah gagasan menjadi dampak nyata, meningkatkan taraf hidup, serta berkontribusi pada ketahanan pangan Indonesia," ujar Rajendra.
Selain kegiatan mencicipi makanan dan pameran, Indonesia juga menyoroti keterkaitan erat antara pangan, pertanian, budaya, dan tradisi melalui penampilan musik oleh duo seniman Indonesia-Italia, Mega Sihombing dan Mauro Goia.
Desainer mode pendatang baru Maria Angelita Girsang dari label By Margél juga menampilkan kreasi ulang kain ulos asal Sumatra Utara dan batik Jawa menjadi busana kontemporer yang praktis dikenakan.
Sebuah karya khusus dari Batik Zoonosis juga turut ditampilkan, yakni batik FAO yang menggambarkan keterkaitan kesehatan manusia, hewan, dan tanaman dalam konsep One Health.
Dengan menggunakan pewarna alami nabati, berbagai koleksi tersebut memamerkan kekayaan warisan tekstil nusantara.
Di panggung utama, para pembicara dari Indonesia mengajak hadirin menelusuri perjalanan konservasi keanekaragaman hayati pertanian di tanah air yang melibatkan budaya, seni, dan ekowisata sebagai upaya memberdayakan masyarakat lokal.
Pameran yang berlangsung selama lima hari ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Tahun lalu, pameran From Seeds to Foods mencatatkan lebih dari 10.000 pengunjung.
Acara ini kembali digelar tahun ini sebagai bagian dari edisi keenam World Food Forum, sebuah ajang unggulan FAO yang menghadirkan rangkaian dialog global, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi berbasis solusi dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia. * (junita sianturi)


