Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat membacakan hasil Rapat Dewan Gubernur, Kamis (17/6/2021). suaratani.com-istSuaraTani.com – Jakarta| Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7 Days Reverse Repo Rate ( BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.
Keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan stabilitas nilai tukar Rupiah yang terjaga, serta upaya untuk memperkuat pemulihan ekonomi.
“Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial akomodatif serta mempercepat digitalisasi sistem pembayaran Indonesia untuk mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo saat membacakan Hasil RDG Bulanan Bulan Juni 2021 yang disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial Bank Indonesia, Kamis (17/6/2021).
Perry mengatakan, di dalam negeri, perbaikan perekonomian domestik berlanjut pada triwulan II 2021. Kondisi perbaikan ini tercermin pada berbagai indikator dini sepanjang bulan Mei yang terus membaik.
Indikator konsumsi rumah tangga mreningkat sesuai pola musiman Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti penjualan eceran, terutama makanan, minuman, tembakau dan BBM.
“Perbaikan ekonomi domestik juga tercermin pada kinerja indikator lainnya, yaitu, ekspektasi konsumen, penjualan online, dan PMI Manufaktur yang melanjutkan peningkatan,” katanya.
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor terus meningkat terutama komoditas batu bara, besi dan baja, serta kendaraan bermotor sejalan dengan kenaikan permintaan mitra dagang utama. Secara spasial, peningkatan ekspor terjadi di seluruh wilayah, terutama Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi-Maluku-Papua ( Sulampua).
Ke depan, pemulihan ekonomi domestik didorong oleh akselerasi perekonomian global, kecepatan vaksinasi, dan penguatan sinergi kebijakan, meskipun dibayangi oleh peningkatan kasus Covid-19 yang muncul pada akhir triwulan II.
“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2021 tetap sesuai dengan proyeksi BI pada akhir April 2021, yakni pada kisaran 4,1%-5,1%,” terangnya.
BI menurut Perry juga memprakirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap baik, sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal. Defisit transaksi berjalan diprakirakan tetap rendah, didorong oleh surplus neraca barang yang berlanjut.
Sedangkan nilai tukar Rupiah menguat sejalan dengan masuknya aliran modal asing dan langkah stabilisasi BI.
“Nilai tukar Rupiah pada 16 Juni 2021 menguat 0,49% secara rerata dan 0,30% secara point to point dibandingkan dengan level Mei 2021. Dengan demikian, hingga kemarin, Rupiah mencatat depresiasi sekitar 1,32% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020,” imbuhnya.
Terkait inflasi, lanjutnya, masih tetap terkendali di tengah kenaikan permintaan sesuai pola musiman HBKN. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2021 tercatat 0,32% (mtm), lebih tinggi dibandingkan April 2021 yang sebesar 0,13% (mtm).
Inflasi tersebut lebih tinggi dari pola musiman HBKN tahun 2020 yang sebesar 0,07% (mtm), namun lebih rendah dari rerata historis 5 tahun terakhir yakni 0,52% (mtm).
“BI tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah baik di tingkat pusat dan daerah melalui Tim Pengendali Inflasi dan Tim Pengendali Inflasi Daerah agar inflasi tetap terjaga sesuai kisaran targetnya yakni 3,0% plus minus 1 di tahun ini,” tutupnya. *(ika)

