Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Harga Emas Berangsur Turun, Kaum Ibu Wajib Berhati-hati

Harga emas mulai bergerak turun seiring dengan kebijakan The FED yang menaikkan suku bunga acuan.suaratani.com-ist 

SuaraTani.com – Medan| Harga emas dunia yang sempat menyentuh level  US$1.847 per ons troy di pekan ini, mendadak turun dan ditransaksikan di level US$1.814 per ons troy sejauh ini. Penurunan harga emas tersebut terjadi saat Bank Sentral AS atau The FED mengumumkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan di bulan Maret mendatang.

Analis keuangan Sumatra Utara (Sumut) Gunawan Benjamin mengatakan, apa yang disampaikan Bank Sentral AS tersebut lebih cepat dari perkiraan pelaku pasar sebelumnya. Dan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan yang lebih agresif akan terjadi di tahun ini. Yang artinya kabar tersebut akan memberikan dampak buruk bagi harga emas dunia termasuk juga harga emas lokal.

“Harga emas di sejumlah butik juga dijual turun pada perdagangan hari ini. Dimana penurunan berkisar Rp11 ribu  hingga Rp13 ribu per gramnya. Saat ini harga emas dijual dikisaran Rp917 ribuan per gram, dari posisi sebelumnya sebesar Rp950 ribuan per gram. Semua terjadi setelah The FED atau sebutan untuk Bank Sentral AS berencana melakukan kebijakan moneter ketatnya. Hal tersebut memicu kepanikan, dan secara tiba-tiba harga emas langsung menukik pasca pemberitahuan Bank Sentral AS tersebut,” kata Gunawan di Medan, Kamis (27/1/2022).

Pada dasarnya menurut Gunawan, Bank Sentral AS jauh hari sudah diprediksikan akan melakukan kebijakan moneter ketatnya, seperti tapering dan menaikkan suku bunga acuan. Hanya saja, kebijakan tersebut justru sebelumnya ditafsirkan tidak akan seagresif saat ini. Seperti pernyataan The FED terakhir atau tepatnya kemarin pada hari rabu malam waktu AS.

Disaat kebijakan moneter ketat diambil, memang akan membuat US Dolar lebih diminati ketimbang aset lainnya. 

“Nah, emas itu kerap menjadi lawannya US Dolar. Karena pelaku pasar global kerap menjadikan dua instrument ini sebagai instrumen utama dalam berinvestasi. Yakni berinvestasi dalam mata uang US Dolar atau emas, sehingga harga keduanya kerap berlawanan,” sebutnya.

Karena itu, Gunawan mengimbau  para ibu rumah tangga yang gemar mengkoleksi emas untuk sebaiknya berhati-hati lagi. Karena rencana kenaikan bunga acuan itu akan lebih sering dilakukan di tahun ini dan akan berlanjut lagi di tahun depan. Potensi tekanan terhadap harga emas pada dasarnya sangat terbuka. Hanya saja gelombang Covid-19 yang tak terkendali kerap mendorong pelemahan mata uang US Dolar.

Hal inilah yang membuat emas belakangan ini susah untuk turun. Karena inflasi di AS tengah naik, maka kebijakan moneter ketat oleh The FED sebenarnya menjadi satu hal yang pasti. Sementara pandemic covid 19 ini masih abu-abu trennya kedepan. Apakah akan terkendali dan mampu dijinakkan sehingga berkontribusi positif bagi perekonomian dunia, atau justru memperparah kondisi ekonomi.

“Masih ada ketidakpastian. Akan tetapi sebaiknya investor atau para ibu rumah tangga yang gemar mengkoleksi emas untuk berhati-hati. Terlebih yang menggantungkan pemenuhan kebutuhan uang dengan banyak mengandalkan simpanan emas,” pungkasnya.  *(ika)