Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BUMN Diminta Sejahterakan Petani, KBI Kembangkan SRG dari Hulu ke Hilir

Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi (baju batik) memeriksa salah satu produk pertanian milik petani yang disimpan dalam gudang penyimpanan. suaratani.com - ist

SuaraTani.com – Jakarta| Menteri BUMN, Erick Thohir meminta BUMN ikut mensejahterakan masyarakat khususnya para petani, dengan membangun ekosistem dari hulu ke hilir untuk berbagai komoditas. 

BUMN saat ini memegang sepertiga ekonomi Indonesia, dan diharapkan menjadi kapal induk untuk membangun keseimbangan ekonomi.

“Saat ini kami mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk menjadi Pusat Registrasi Resi Gudang. Dalam peran ini, selama 15 tahun Sistem Resi Gudang (SRG) berjalan kami terus mengembangkan ekosistem ini yang pada akhirnya untuk memberikan kesejahteraan kepada para petani,” kata Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi dalam keterangan persnya, Senin (7/2/2022), di Jakarta, menanggapi arahan Menteri BUMN tersebut. 

Seperti diketahui, kata Fajar, harga komoditas akan cenderung mengalami penurunan pada saat panen. Dengan memanfaatkan SRG, petani dapat melakukan tunda jual sambil menunggu pergerakan harga.

Dalam hal membangun ekosistem di hilir, Kliring Berjangka Indonesia (KBI) juga menurut Fajar, terus mengajak lembaga pembiayaan untuk masuk membiayai resi gudang. Hal ini dikarenakan petani bisa menjadikan resi gudang yang dimiliki sebagai jaminan mendapatkan pembiayaan dari lembaga pembiayaan untuk kelangsungan usahanya. 

“Selain itu, melalui anak usaha kami yaitu PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia, kami juga mengembangkan  ekosistem resi gudang di hilir dengan melakukan kerjasama tentang Repurchase Order dengan berbagai pihak, serta menjalin kerjasama dengan para offtaker,” ungkap Fajar.

Sistem Resi Gudang sendiri, menurut dia, merupakan kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan, pengalihan, penjaminan dan penyelesaian transaksi Resi Gudang. Sedangkan Resi Gudang, adalah dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di Gudang yang diterbitkan oleh Pengelola Gudang. 

Sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 14 Tahun 2021 yang merupakan Perubahan atas Permendag Nomor 33 Tahun 2020 tentang Barang dan Persyaratan Barang yang dapat Disimpan dalam Sistem Resi Gudang, komoditas yang dapat masuk ke Sistem Resi Gudang meliputi beras, gabah, jagung, kopi, kakao, karet, garam, lada.

Kemudian, pala, ikan, bawang merah, rotan, kopra, teh, rumput laut, gambir, timah, gula putih kristal, kedelai serta ayam karkas beku.  

Terkait pemanfaatan Resi Gudang, Data PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) menyebutkan, dari sisi jumlah registrasi sepanjang tahun 2021 resi gudang yang diregistrasi mencapai 633, naik 48% dibandingkan jumlah resi gudang yang diregistrasi tahun 2020, sebanyak 427.

Sepanjang tahun 2021 juga terjadi kenaikan volume barang sebesar 46%, dari 9.590 ton di tahun 2020 menjadi 13.968 ton. Sedangkan dari sisi pembiayaan, terjadi peningkatan sebesar 195% dari Rp93,8 milliar menjadi Rp277,395 miliar.

“Kami proyeksikan pemanfaatan Resi Gudang akan terus mengalami peningkatan dalam waktu-waktu mendatang. Potensi itu ada baik dari sisi jumlah petani maupun komoditas yang ada di Indonesia,” kata Fajar. 

Fajar Wibhiyadi juga menyebutkan, data BPS tahun 2021 menunjukan jumlah petani Indonesia mencapai 38,7 juta jiwa. Ini tentunya menjadi pekerjaan rumah, untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para petani tersebut tentang sistem resi gudang. 

“Dengan memanfaatkan resi gudang, pada akhirnya  untuk meningkatkan kesejahteraan para petani tersebut. Sedangkan dari sisi KBI, kami terus mengembangkan sistem registrasi untuk memberikan kemudahan bagi para petani melakukan registrasi resi gudangnya. Saat ini kami memiliki aplikasi IS-Ware NextGen yang berbasis teknologi Blockchain dan Smart Contract, yang memberikan kemudahan dan keamanan bagi petani untuk melakukan registrasi,” tutup Gajar Wibhiyadi.* (junita sianturi)