SuaraTani.com – Medan| Komisi IV DPR RI meminta pemerintah untuk tidak lagi mengambil kebijakan impor beras, mengingat saat ini produksi padi di Indonesia surplus.
Permintaan ini disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Anggia Erma Rini, usai mendengarkan paparan Direktur Bisnis Perum Bulog, Febby Novita dalam kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Senin (21/2/2022).
Menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini, selama ini memang Perum Bulog belum menyerap beras petani dalam jumlah yang besar, karena penugasan dari pemerintah tidak terlalu banyak.
“Sehingga kalau ada alur yang bagus antara penyerapan dan penyaluran, tentunya akan lebih baik,” ujar Anggia.
Anggota Komisi IV lainnya, Djarot Saeful Hidayat juga menyampaikan permintaan serupa.
Menurut Djarot yang mewakil Fraksi PDI-Perjuangan ini, dengan masih banyaknya stok beras impor yang tersimpan di gudang Bulog, seakan menunjukkan adanya kesalahan saat penghitungan stok atau nafsu mengimpor beras yang terlalu menggebu-gebu.
“Padahal kan ketentuannya itu beras maksimal disimpan 4 bulan untuk menjaga kualitas. Yang terjadi saat ini justru masih ada tersimpan beras yang diimpor tahun 2018 lalu, karena beras-beras ini tidak bisa dilepas ke pasar kalau tidak ada penugasan kan,” katanya.
Pada kesempatan itu, Febby Novianti menjelaskan, kapasitas gudang Bulog di Sumut mencapai 81 ribu ton, tetapi saat ini hanya diisi 9 ribu ton. Karena target pengadaan atau penyerapan beras petani oleh Buog Sumut hanya 26 ribu ton.
“Kita gak berani banyak-banyak Pak, nanti busuk lagi berasnya. Jadi maksudnya, kita yah kalau tidak ada salurannya tentunya hanya untuk operasi pasar yah berarti hanya 26 ribu ton,” kata Febby menjawab pertanyaan Djarot.
Karena itu, di tahun ini secara nasional Bulog merencanakan pengadaan sebanyak 1,6 juta ton. Dengan ketersediaan stok yang ada 1 juta ton, maka Bulog cukup menyerap 600 ribu ton.
“Ini nantinya pasti akan berdampak pada harga turun dan lain-lain, tapi kami tidak bisa simpan banyak-banyak jika tidak ada salurannya,” pungkasnya. *(ika)

