SuaraTani.com – Deliserdang| Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian (Kementan), Bambang meminta agar seluruh pelaku usaha sarang burung walet (SBW) dapat terus bersatu agar dapat menjaga sekaligus meningkatkan kinerja ekspornya di pasar global.
"Ekspor SBW menjadi salah satu andalan pada kinerja ekspor pertanian. Untuk itu saya mengajak pelaku usaha SBW untuk kompak di pasar ekspor," kata Bambang, saat melakukan monitoring tindakan karantlna di tempat pemrosesan walet, PT Originalnest Indonesia di Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (22/2/2022).
Kekompakan ini telah terbukti dapat menerobos hambatan ekspor, khususnya di pasar Cina.
"Saat ini sudah 26 pelaku usaha SBW kita yang telah dapat masuk ke pasar Tiongkok, setelah sebelumnya cukup sulit untuk menambah," jelas Bambang.
Sebagai informasi, pasar Tiongkok banyak diburu karena selain ceruk pasarnya besar harga belinya juga cukup tinggi. Seiring dengan ketatnya persyaratan yang dipatok melalui General Administration of Customs China (GACC) cukup tinggi.
Bambang menyebutkan, saat ini baru perusahaan besar yang memenuhi standar aturan ekspor dari GACC. Karena itu, Bambang menyarankan perusahaan-perusahaan kecil yang belum terdaftar dan belum mampu mengikuti regulasi itu agar diberikan pembinaan oleh sesama pelaku usaha besar SBW.
Bambang juga menyebutkan bahwa sesuai arahan Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo) agar mengawal maksimum seluruh pelaku usaha SBW untuk mendapatkan kemudahan, termasuk untuk mengekspor produk ke Tiongkok.
“Tak ada jalan lain selain seluruh pelaku usaha SBW untuk kompak,” ucap dia.
Selain itu, Bambang juga mengingatkan agar pelaku usaha SBW Indonesia berkomitmen mengikuti protokol ekspor GACC terkait regulasi seperti pembatasan kuota, jaminan kualitas mutu pangan, aman dari risiko-risiko penyakit, dan jaminan ketertelusuran (traceability) produk yang baik.
Kepala Karantina Pertanian Medan, Lenny H Harahap yang turut hadir mendampingi menyebutkan bahwa pihaknya mencatat dari 26 perusahaan yang telah teregistrasi oleh GACC, 6 diantaranya berasal dari Sumut.
"Masih ada 4 pelaku usaha lain yang masih pendampingan untuk memasuki pasar Tiongkok," kata Lenny.
Dari data sertifikasi ekspor di wilayah kerjanya di tahun 2021, tercatat sebanyak 1.313 kali pengiriman dengan total sebanyak 301,05 ton dengan nilai mencapai Rp3,7 triliun. Tidak hanya Tiongkok, SBW Sumut juga diminati pasar Australia, Kamboja, Perancis, Hongkong, Jepang, Malaysia, Amerika Serikat dan Korea Selatan.
“Selain fokus memasarkan di pasar global, kita juga akan dorong konsumsi SBW di dalam negeri. Sehingga industri ini makin berkembang, sekaligus masyarakat juga dapat merasakan manfaatnya bagi kesehatan," tutup Bambang.* (junita sianturi)

