Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pemerintah Dinilai Gagal Siapkan Stok Kedelai, Djarot: Kasih Subsidi Harga

(kiri-kanan) Anggota Komisi IV DPR RI, Djarot Syaiful Hidayat bersama Plt Kepala Balitbangtan Kementan, Fadjry Djufry dan Kepala BPTP Sumut Khadijah El Ramija dalam kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke BPTP Sumut, Senin (21/2/2022) sore. suaratani.com - junita sianturi

SuaraTani.com - Medan| Anggota Komisi IV DPR RI, Djarot Syaiful Hidayat menyoroti mahalnya harga kedelai di tingkat perajin tahu tempe saat ini. Harusnya pemerintah mengurangi impor kedelai dan membangun hulunya melaui budidaya kedelai.

“Kesalahan itu dari hulunya. Harusnya pemerintah mendorong mengurangi impor kedelai dengan cara membangun membina petani. Membuka lahan supaya petani mau tanam kedelai. Dengan cara apa? Kasih subsidi harga, supaya jangan sampai petani tanam kedelai, begitu panen harganya turun, petani rugi,” kata Djarot kepada SuaraTani.com, di sela-sela kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke Sumut, dan diantaranya ke BPTP Sumut, Senin (21/2/2022) sore.  

Menurut Djarot, untuk mendukung itu maka harus ada jaminan harga. Pemeritah harus memberi subsidi harga daripada subsidi pupuk. 

“Kalau subsidi itu sebaiknya subsidi harga bukan subsidi pupuk. Kalau subsidi pupuk yang menikmati adalah mafia-mafia pupuk, oligopoli, petani penerima bisa fiktif dimainin oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Jadi lebih baik subsidi harga dengan kualitas yang ditentukan kita semua,” katanya lagi.

Mengenai idealnya harga subsidi kedelai yang cocok, menurut Djarot, hitungannya dengan petani. Berapa harga yang terendah. 

“Begitu musim panen, berapa harga terendah yang mana petani tidak boleh rugi. Kalau petani rugi terus, buat apa dia tanam. Jadi, jangan sampai petani rugi,” kata Djarot. 

Untuk meredam gejolak harga dan pasokan kedelai yang dibutuhkan para perajin tahu tempe saat ini, Djarot mengatakan, pemerintah harus impor kedelai. Tetapi, pemerintah harus transparan, berapa banyak yang mau diimpor sesuai dengan kebutuhan dan harga berapa. Jangan di markup lagi. 

“Ini juga menandakan bahwa pemerintah kita gagal dalam menyiapkan stok kedelai. Karena kelangkaan kedelai di dalam negeri setiap tahun terjadi,” sebut Djarot. 

Ia juga menyebutkan bahwa kedelai lokal kualitasnya jauh lebih baik dari kedelai impor. Bahkan para perajin tahu tempe lebih menyukai kedelai lokal karena kualitas tahu tempe yang dihasilkan jauh lebih baik. Namun, karena ketersediaan minim maka perajin tahu tempe terpaksa menggunakan kedelai impor. 

Djarot juga menyarankan pemerintah melakukan pengecekan ke gudang-gudang pengusaha kedelai untuk mengantisipasi penimbunan kedelai seperti yang dilakukan pengusaha minyak goreng yang melakukan penimbunan.

Terkait varietas kedelai yang dapat dikembangkan petani di tanah air, Plt Kepala Balitbangtan Kementan, Fadjry Djufry yang turut hadir mendampingi Komisi IV DPR RI mengatakan, Badan Litbangtan telah melahirkan banyak varietas kedelai yang bisa digunakan petani.

“Rata-rata produktivitas kedelai dari varietas yang kita hasilkan berkisar tiga ton per hektare tidak kalah dengan varietas impor,” katanya.

Kedelai Indonesia, kata Fadjry, jauh lebih baik dibanding kedelai impor. Dan, untuk perajin tahu tempe sangat menyukai kedelai lokal, karena  rasanya lebih gurih. 

“Kita punya varietas kedelai yang sangat baik, seperti biosoy yang potensi hasilnya tiga ton per hektare. Ada juga varietas kedelai yang bisa ditanam di lahan kering, di lahan basah di bawah genangan dan lain-lain. Dan, kita sudah menciptkan ratusan jenis varietas unggul kedelai. Tinggal teknologi apa yang cocok untuk digunakan agar produksinya tinggi,” kata Fadjry.

Memang persoalan sekarang itu harga. Harga yang belum bersaing dengan jagung. Karena kalau potensi hasil kedelai berkiar dua tiga ton dan di tingkat petani berkisar 1,5 ton hingga dua ton per hektare belum cukup kalau dibanding dengan jagung.

“Bagaimana caranya agar kedelai ini kompetitif agar petani mau menanamnya. Kalau soal teknologi, saya pikir tidak masalah. Tinggal bagaimana harga bisa lebih baik. Kalau lahan kita cocok untuk pengembangan kedelai,” jelas Fadjry.* (junita sianturi)