Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Rusia Belum Invasi Ukraina, Rupiah dan IHSG Mixed dengan Kecenderungan Naik

Kinerja pasar keuangan masih menunjukkan grafik positif, seiring belum dilakukannya invasi oleh Rusia ke Ukraina.suaratani.com-dok 


SuaraTani.com – Medan| Invasi Rusia ke Ukraina tidak seburuk kekhawatiran pelaku pasar, meskipun Rusia secara terang terangan mendukung milisi Pro Rusia dengan mendukung kemerdekaan dua negara yang sebelumnya berada di wilayah Ukraina. 

Pasar keuangan masih belum bergeming dengan kabar tersebut. Dan kabar terkait invasi Rusia ke Ukraina mengalami pasang surut di pekan ini.

Pada hari Senin, kabar dimana Presiden AS akan Bertemu dengan Presiden Rusia sempat membuat pasar keuangan domestik ditutup di zona hijau. Namun hari Selasa, masalah geoppolitik yang memburuk membuat pasar keuangan kita kembali di zona merah. 

“Dan pada hari ini, setelah Rusia mengakui kemerdekaan kedua negara Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Lugansk (LPR), pasar keuangan global bergerak sideways dengan kecenderungan menguat,” ujar analis keuangan Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin di Medan, Rabu (23/2/2022).

Untuk IHSG pada perdagangan hari ini ditutup menguat 0.85% di level 6.920, mengikuti perkembangan kinerja bursa di Asia. 

Untuk kinerja mata uang Rupiah, pergerakannya juga tidak jauh berbeda dengan IHSG, mengalami pasang surut dalam rentang pergerakan yang terbatas. Pada hari ini Rupiah ditransaksikan di kisaran level 14.330 per US Dolar.

Sisa dua hari perdagangan di pekan ini, sentimennya tetap fokus pada Rusia. Bursa Rusia sendiri sejauh ini telah mengalami penurunan sekitar 17% sejak tanggal 17 februari, atau tepatnya sejak Rusia dinilai serius akan menginvasi Ukraina. 

Dan sekalipun kabar baik menyelimuti dua hari perdagangan terakhir di pekan ini, tetapi tidak akan sepenuhnya melepaskan keraguan bahwa Rusia tetap bisa kapan saja menginvasi Ukraina nantinya.

“Dan dengan keraguan tersebut, saya meyakini pelaku pasar keuangan tidak akan berani beranjak melangkah jauh dengan melakukan beli massif di pasar keuangan kita. Karena resiko koreksi masih mengintai, dan pasar akan fokus ke Rusia setiap waktu,” pungkasnya. *(ika)