SuaraTani.com – Medan| Hasil menanam kopi ateng jenis arabika sejak dua tahun lalu tampaknya mulai bisa dinikmati Jenny Sidebang, petani kopi di Desa Tinada Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat.
Setidaknya sejak bulan Februari lalu, ia mulai bisa memanen biji kopi meski masih dalam jumlah yang sedikit.
“Tetapi sedikit pun sudah bisa kami jual ke toke,” ujar Jenny saat dihubungi, Kamis (10/3/2022).
Jenny menyebutkan, saat pertama kali menjual kopi ke pengepul, ia mendapat harga Rp28 ribu per kilogram (kg) untuk biji kering.
“Harga ini sudah bagus, karena sebelum aku mulai panen, harga sempat Rp13 ribu,” sebutnya.
Untuk Jenny, harga Rp28 ribu itu sudah bisa memberikan keuntungan, meski ia harus mengeluarkan modal yang cukup banyak untuk pupuk.
“Aku pakai pupuk kandang yang seharga Rp14 ribu per sak, dan butuh 100 sak setiap 6 bulan. Kalau pupuk kimia cukup 1 sak saja setiap 6 bulan,” terangnya.
Keuntungan menurut Jenny bisa dinikmati karena kopi akan terus bisa dipanen dalam waktu yang panjang tanpa henti.
“Setidaknya bisa dipanen hingga 15 tahun,” tuturnya.
Sebagai petani kecil, Jenny berharap bisa dengan mudah memperoleh pupuk. Karena berdasarkan pengalamannya, pupuk masih sulit didapat meski harga sudah melonjak tajam.
“Karena pupuk itu kebutuhan utama kami,” pungkasnya. *(ika)

