Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Harga Minyak Goreng Masih Tidak Terkendali

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat melakukan peninjauan di gerai ritel modern di Jakarta pada pekan lalu. Hingga saat ini, kebijakan yang dijalankan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan masih belum memberikan hasil yang maksimal.suaratani.com-ist 


SuaraTani.com – Medan| Harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat sejauh ini masih bertahan mahal. Dari beberapa komoditas sembako yang diperdagangkan pada hari ini, daging ayam dan cabai merah terpantau mengalami penurunan. 

Harga cabai merah turun di kisaran Rp47 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram (kg), sementara harga daging ayam turun dan dijual di kisaran Rp30 ribu hingga Rp32 ribuan per kg nya.

Namun harga minyak goreng justru mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan. Harga minyak goreng curah saat ini dijual di kisaran harga Rp18 ribu per kg, sedangkan harga minyak goreng kemasan dijual diatas Rp20 ribu per liternya. 

“Harga minyak goreng seakan tak terkendali setelah pemerintah mencabut HET untuk minyak goreng. Padahal itu hanya untuk minyak goreng kemasan, sedangkan minyak goreng curah ditetapkan di angka Rp14 ribu per kg,” kata pemerhati ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin di Medan, Senin (21/3/2022).

Saat ini kata Gunawan, harga minyak goreng terus melambung, yang sampai hari ini masih menjadi polemik. 

 Harga minyak goreng seakan kembali lagi sebelum pemerintah khususnya kementerian perdagangan memberlakukan HET baru untuk meredam gejolak harga. Harga minyak goreng saat ini tak ubahnya seperti harga saat awal Januari yang bergerak dikisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan per liternya.

Dan lagi-lagi masyarakat miskin yang akan dirugikan dengan kenaikan harga minyak goreng tersbeut. 

Karena itu Gunawan meminta agar pemerintah segera merealisasikan kebijakan baru terkait minyak goreng Rp14 ribu per Kg. kalau harga saat ini berlanjut terus dan masyarakat tetap mengantre untuk mendapatkannya, maka pada dasarnya kerugian yang ditimbulkan akibat kenaikan harga tersebut bukan hanya dari sisi nominal saja. Tetapi masyarakat juga kehabisan waktu beserta energy yang harus terbuang percuma. 

“Dalam bahasa ekonomi, opportunity cost nya terlalu besar untuk membeli minyak goreng. Jika harga minyak goreng yang mahal saat ini juga dibarengi dengan kelangkaan, derita masyarakat kian berat. Dan sejak pemerintah menawarkan solusi belum juga mampu menuntaskan polemik minyak goreng hingga saat ini,” pungkasnya. *(ika)