SuaraTani.com – Medan| Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut), Musa Rajekshah menyampaikan kerja sama antarsemua pihak sangat penting untuk mencapai pembangunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (KSB).
"Sinergi antar stakeholder kelapa sawit dapat memberikan manfaat yang luas tidak hanya bagi seluruh stakeholder kelapa sawit tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat," kata Wagub Sumut saat membuka acara Pertemuan Koordinasi Tim Pelaksana Daerah (TPD) Rencana Aksi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAP-KSB) Provinsi Sumut, Selasa (22/3/2022), di JW Marriott Hotel Medan.
Hadir sejumlah kepala daerah di antaranya Bupati Batubara, Zahir, Bupati Labuhanbatu Erik Adtrada Ritonga, Bupati Madina, Muhammad Jafar Sukhairi Nasution, Plt Bupati Langkat Syah Afandin, Penasihat Senior Forum RAP KSB, Rusman Heriawan, para pelaku industri kelapa sawit, dan kepala dinas pertanian atau perkebunan dari 15 sentra perkebunan sawit di Sumut.
Pelaksanaan rencana aksi ini, lanjut Ijeck, sapaan Wagub Sumut, melibatkan beberapa pihak baik dari OPD/dinas terkait, pelaku usaha, assosiasi, akademisi dan komunitas di bidang kelapa sawit yang tergabung dalam Forum Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FOKSBI) Sumut.
"Harapan kita kepada kabupaten sebagai sentra penghasil komoditi kelapa sawit di Sumut dapat menindaklanjuti amanah Instruksi Presiden nomor 6 tahun 2019 tentang RAP-KSB," katanya.
RAP-KSB ini, tambahnya untuk mendorong perkebunan kelapa sawit di Sumut yang bermartabat, berdaya saing dan berkelanjutan.
Ijeck juga menyampaikan harapannya kepada seluruh perusahaan baik swasta, BUMD, BUMN yang punya areal perkebunan kelapa sawit untuk melaksanakan plasma sawit agar masyarakat yang menjadi anggota plasma dapat mendapatkan manfaat untuk kesejahteraan hidupnya.
Pembangunan kebun plasma oleh perusahaan perkebunan adalah bentuk kewajiban terhadap masyarakat di sekitar perkebunan.
"Kita pun menyadari masih banyak perusahaan yang belum membuka kebun plasma. Ini harus jadi perhatian kepala daerah memperjuangkan plasma untuk warga sekitar areal perkebunan," ujar Ijeck.
Selain itu, masalah petani sawit saat ini juga bertambah dengan naiknya harga pupuk dan pestisida.
"Harga TBS tembus Rp3.000 lebih per kg. Saya cemburu dengan perkembangan ini karena dulu saat saya mengurus kebun harganya tidak pernah sampai segitu. Tapi sayangnya, saya dengar harga pestisida dan pupuk juga naik. Begitu pun tetap harus disyukuri, apalagi pemerintah juga memberikan perhatian untuk kelapa sawit," ujar Ijeck.
Ia pun meminta semua pihak untuk terus memberi perhatian khusus terhadap problem yang dihadapi para petani sawit di Sumut.* (wulandari)


