SuaraTani.com – Medan| Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencatat, luas panen padi pada 2021 mencapai 385.400 hektare. Luas ini mengalami penurunan sebanyak 3.190 hektare atau 0,82% dibandingkan 2020 yang sebesar 388.590 hektare.
Data ini berdasarkan hasil penghitungan menggunakan Kerangka Sampel Area (KSA) yang sudah digunakan sejak tahun 2018, bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) & Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang sekarang bergabung menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasiona (BRIN), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN), serta Badan Informasi dan Geospasial (BIG).
“Puncak panen padi pada 2021 tidak mengalami pergeseran dibanding 2020. Pada 2021, puncak panen terjadi pada bulan Februari, yaitu mencapai 63.500 hektare, sementara puncak panen pada 2020 juga terjadi pada bulan Februari, yaitu sebesar 56.510 hektare,” ujar Kepala BPS Provinsi Sumut, Nurul Hasanudin, di Medan, Kamis (10/3/2022).
Dari luas panen tersebut, kata Nurul, maka di tahun 2021, poduksi padi mencapai 2 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), mengalami penurunan sebanyak 36.360 ton GKG atau 1,78% dibandingkan 2020 yang sebesar 2,04 juta ton GKG.
Produksi padi tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Februari, yaitu sebesar 0,32 juta ton GKG sementara produksi terendah terjadi pada bulan Desember, yaitu sebesar 0,09 juta ton GKG.
“Tidak berbeda dengan kondisi pada 2021, produksi padi tertinggi pada 2020 juga terjadi pada bulan Februari,” katanya.
Dijelaskannya, jika dilihat berdasarkan daerah, maka penurunan produksi padi yang cukup besar pada 2021 terjadi di beberapa wilayah potensi penghasil padi seperti Langkat, Asahan, dan Serdang Bedagai. Di sisi lain, beberapa kabupaten/ kota mengalami peningkatan produksi padi yang relatif besar, misalnya Tapanuli Tengah, Nias Utara, dan Nias Selatan.
“Tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi (GKG) tertinggi pada 2021 adalah Deliserdang, Serdangbedagai, dan Simalungun. Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah ialah Tebingtinggi, Labuhanbatu Selatan, dan Tanjungbalai,” jelasnya.
Di tahun 2021 lalu, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 1,15 juta ton, mengalami penurunan sebanyak 20.860 ton atau 1,78% dibandingkan produksi beras di 2020 yang sebesar 1,17 juta ton.
Nurul menambahkan, untuk luas panen padi pada Januari 2022, mencapai 37.320 hektare, dan potensi panen sepanjang Februari hingga April 2022 diperkirakan seluas 160.680 hektare. Dengan demikian, total luas panen padi pada Subround Januari-April 2022 diperkirakan mencapai 198 ribu hektare, atau mengalami kenaikan sekitar 37.570 hektare (23,42%) dibandingkan luas panen padi pada Subround Januari-April 2021 yang sebesar 160.440 hektare.
“Tetapi ini masih angka sementara, karena masih mengandung angka potensi luas panen (Februari-April) dan menggunakan produktivitas tahun sebelumnya (Januari-April 2021),” tutupnya. *(ika)

