Penurunan NTP ini menurut Kepala BPS Provinsi Sumut Nurul Hasanudin dipicu turunnya NTP pada seluruh subsektor, yaitu NTP subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,62%, NTP subsektor Hortikultura sebesar 0,19%, NTP subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,72%, NTP subsektor Peternakan sebesar 1,55%, dan NTP subsektor Perikanan sebesar 0,57%.
“Turunnya NTP subsektor ini dikarenakan indeks harga yang dibayarkan oleh petani (Ib) lebih tinggi dari indeks harga yang diterima oleh petani (It),” ujar Nurul Hasanudin di Medan, Selasa (1/3/2022).
Nurul menjelaskan, untuk It bulan Februari, pihaknya mencatat ada penurunan sebesar 0,18% dibandingkan dengan It Januari 2022, yaitu dari 137,41 menjadi 137,16.
Penurunan It terjadi pada empat subsektor, yaitu It subsector tanaman pangan sebesar 0,08%, It tanaman perkebunan rakyat subsektor sebesar 0,10%, It subsektor Peternakan sebesar 1,23%, dan It subsektor perikanan sebesar 0,21%.
“Hanya It subsektor hortikultura yang mengalami kenaikan sebesar 0,32%,” terangnya.
Sedangkan untuk Ib di bulan Februari, lanjutnya, terjadi kenaikan yang cukup tinggi yakni sebesar 0,54% dibandingkan dengan Ib Januari 2022, atau dari 108,41 menjadi 109,00.
“Kenaikan Ib terjadi pada seluruh subsektor, yaitu Ib subsektor tanaman pangan sebesar 0,54%, Ib subsektor hortikultura sebesar 0,51%, Ib subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,63%, Ib subsector peternakan sebesar 0,33%, dan Ib subsektor perikanan sebesar 0,36%,” tambahnya.
Jika dilihat secara rinci, maka penurunan NTP Tanaman Pangan/Padi dan Palawija karena ada perubahan yang terjadi pada It karena indeks kelompok padi turun sebesar 0,15%, yaitu dari 103,16 menjadi 103,00, sedangkan indeks kelompok palawija naik sebesar 0,13%, yaitu dari 116,14 menjadi 116,30.
Perubahan pada Ib terjadi karena Indeks Kelompok Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) naik sebesar 0,55%, yaitu dari 108,39 menjadi 108,99 dan Indeks Kelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) naik sebesar 0,47%, yaitu dari 108,73 menjadi 109,24.
Sementara penurunan NTP subsektor hortikultura karena disebabkan perubahan It (0,32%) lebih rendah dibandingkan dengan perubahan Ib (0,51%). Perubahan yang terjadi pada It karena adanya kenaikan pada indeks kelompok sayur-sayuran sebesar 5,15% dari 91,64 menjadi 96,36.
Sementara itu, indeks kelompok buah-buahan turun sebesar 3,93%, yaitu dari 102,65 menjadi 98,62 dan indeks kelompok tanaman obat-obatan sebesar 1,29%, yaitu dari 85,22 menjadi 84,12.
Perubahan pada Ib terjadi karena Indeks IKRT mengalami kenaikan sebesar 0,34%, yaitu dari 108,80 menjadi 109,17 dan indeks BPPBM naik sebesar 0,86%, yaitu dari 108,12 menjadi 109,05.
Sementara untuk NTP subsektor perkebunan mengalami penurunan sebesar 0,72%. Hal ini terjadi karena It turun sebesar 0,10%, sedangkan Ib naik sebesar 0,63%.
“Perubahan pada It terjadi karena indeks kelompok tanaman perkebunan rakyat secara rata-rata turun sebesar 0,10%, yaitu dari 175,71 menjadi 175,53, sedangkan perubahan pada Ib terjadi karena indeks IKRT naik sebesar 0,59%, yaitu dari 107,92 menjadi 108,56 dan indeks BPPBM naik sebesar 0,76%, yaitu dari 110,06 menjadi 110,90,” pungkasnya. *(ika)

