SuaraTani.com – Medan| Banjir Kota Medan merupakan persoalan akut yang masih belum terselesaikan secara signifikan. Justru kawasan terdampak semakin luas dan intensitas banjir semakin meningkat dalam 20 tahun terakhir.
Bahkan pada banjir yang terjadi pada 22 Februari 2022 lalu berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggenangi 9 kecamatan dengan 3.267 KK atau 9.428 jiwa terdampak dan 185 jiwa mengungsi.
Hal ini menunjukkan kompleksnya permasalahan yang terjadi. Simplifikasi permasalahan dengan hanya melihatnya dari sisi teknis, tidak saja tidak bisa mengatasi masalah tetapi justru persoalan yang dihadapi akan semakin rumit.
Dan ini menjadi topik yang dibahas dalam Forum Diskusi Rabu yang dilaksanakan via zoom, Rabu (23/3/2022) yang digelar Pengda AAI Asosiasi Antropolog Indonesia (AAI) Sumatera Utara (Sumut) bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Antropologi Sosial FISIP USU, Prodi Antropologi Sosial PPS Unimed dan juga Prodi Studi Pembangunan PPS USU.
Ketua Pengda AAI Sumut, Dr. Zulkifli Lubis, MA dalam sambutannya menengarai beberapa penyebabnya utama banjir Kota Medan, seperti berkurangnya daerah penyangga serapan air di area hulu Sibolangit - Deli Serdang, perubahan tata ruang dan tata guna kota disekitar kawasan DAS menjadi kawasan pembangunan pemukiman real estate, pom bensin, hotel dan lain sebagainya.
Kemudian praktek perilaku membuang sampah di sungai maupun sembarang tempat telah menyebabkan penyumbatan di saluran air utama di dalam kota dan sedimentasi serta penyumbatan di hilir sungai di Belawan, serta belum terlibatnya masyarakat didalam upaya menanggulangi banjir di Kota Medan.
Karena itu Zulkifli Lubis menilai pentingnya pendekatan budaya dan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir dan pentingya upaya tersebut untuk didorong agar pemahaman tersebut menjadi acuan kebijakan dan implementasinya.
“AAI Pengda Sumatera Utara bersama akademisi Kota Medan mendorong upaya pendekatan budaya dengan partisipasi warga Kota Medan melalui Forum Warga Kota Medan. Harapannya banjir Kota Medan bisa lebih diatasi bersama secara lebih partisipatif,” ujar Zulkifli.
Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution, yang ikut ambil bagian dalam diskusi menyadari kompleksitas permasalahan yang ada dan dibutuhkannya pemahaman yang komprehensif dan upaya kolaboratif agar berhasil menanggulangi permasalahan banjir di Kota Medan.
Bobby secara terbuka menyatakan dirinya siap menerima masukan dan siap bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk mengatasi permasalahan banjir secara kolaboratif.
“Penanganan Banjir kota Medan harus dilakukan secara kolaboratif dan kompehensif. Semua sektor punya andil dalam keberhasilan pernyelesaian permasalahan banjir antara lain pemerintah, akademisi, Balai Wilayah Sungai (BWS), Balitbang dan sebagainya,” jelasnya.
Selain Wali Kota Medan, Forum Diskusi Rabu yang merupakan kegiatan diskusi bulanan juga menghadirkan Direktur Walhi Sumut, Doni Latuparisa, pemerhati banjir Kota Medan Jaya Arjuna dan Elfina, Testifier, masyarakat terdampak banjir Kota Medan sebagai pembicara. *(junita sianturi)


