Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Perang Rusia–Ukraina Dikhawatirkan Dorong Kenaikan Harga Tepung Hingga Mie Instan

Pemerhati ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin.suaratani.com-ika 

SuaraTani.com – Medan| Perang antara Rusia dengan Ukraina yang masih berlangsung hingg saat ini menimbulkan kekhawatiran yang besar. 

Posisi kedua negara sebagai negara penghasil gandum terbesar mendorong harga gandum mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Data menunjukan setelah 24 februari 2022, harga gandum sempat meroket hingga 50% selama perang berlangsung.

Pemerhati ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, mengatakan, pada tanggal 24 februari, harga gandum masih dikisaran $8.88 per bushel, dan dan saat ini berada dikisaran US$11.00 per bushel nya setelah sempat naik hingga menyentuh US$12,78 per bushel pada tanggal 7 Maret.

Diketahui, gandum ini sebagai bahan baku pembuat biskuit, mie instan, roti, hingga kue. Dan umumnya gandum ini didatangkan dengan cara diimpor.

Yang artinya sangat bergantung pada gandum dengan harga yang terbentuk di pasar internasional, dimana perang Rusia-Ukraina menjadi salah satu pemicunya. 

“Sampai saat ini, produk turunan dari gandum seperti mie instan, roti, kue,  dan biskuit harganya memang masih terpantau stabil, belum mengalami kenaikan khususnya selama tahun 2022 ini,” ujar Gunawan Benjamin di Medan, Rabu (23/3/2022).

Sampai saat ini kata Gunawan, harga tepung berdasarkan hasil pengamatan masih berada di kisaran Rp9.000 per kg untuk tepung terigu, tepung beras sekitar Rp7.000 per kg, tepung jagung di kisaran Rp9000 per kg. Untuk tepung terigu dengan beberapa merek ternama harganya berada dikisaran Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kg.

“Sejauh ini, produk turunan dari gandum harganya masih bertahan, belum mengalami perubahan. Saya menilai harga yang belum berubah tersebut lebih diakrenakan oleh elastisitas produk turunan gandum itu sendiri. Dimana sebagian besar produk turunan gandum itu sangat elastis terhadap perubahan harga dan permintaan,” katanya.

Artinya menurut Gunawan, saat terjadi kenaikan harga, sejumlah produk turunan gandum itu bisa saja mengalami penurunan penjualan. Hal ini yang menurutnyamembuat harga belum dinaikkan. Tetapi untuk jenis mie instan merek tertentu ia yakin sifatnya inelastis. Artinya kenaikan harga tidak lantas membuat penjualan mengalami penurunan.

“Dari hasil penelusuran saya, gandum dibeli melalui transaksi komoditas berjangka. Yang artinya pengusaha sudah membeli di harga sebelum terjadinya perang. Sehingga harga produk turunan gandum masih mampu stabil. Namun menurut hemat saya kita jangan terlena, karena saya yakin tidak semua pengusaha itu melakukan transaksi berjangka dalam menjaga stok untuk  waktu yang lama,” imbuhnya.

Hal ini menurutnya dikarenakan stok bisa saja berkurang atau habis, dan mereka membeli gandum dengan harga yang baru. Untuk itu, Gunawan mewanti-wanti kenaikan harga produk turunan dari gandum terjadi paling dekat di bulan ramadhan yang jatuh pada April mendatang.

“Namun kabar terkait adanya gangguan pasokan pada mie instan ini tentunya menjadi perhatian serius kedepan. Gangguan pasokan itu nantinya bisa memicu kenaikan harga. Ramadhan tahun ini akan menjadi “bencana” inflasi bagi Sumut,” pungkasnya. *(ika)