SuaraTani.com – Medan| Perang yang saat ini masih berkecamuk di Ukraina diyakini akan berdampak pada kinerja perdagangan. Terlebih jika ada negara yang sangat bergantung perdagangannya pada kedua negara tersebut.
Pemerhati ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin menilai, bagi Indonesia, perang antara Rusia dengan Ukrainai itu tidak akan berpengaruh banyak.
Perdagangan Indonesia dengan Rusia terbilang sangat kecil. Menurut data Kemendag nilainya sebesar US$2.75 miliar. Di tahun 2021, Indonesia catatkan surplus berdagang dengan Rusia sebesar US$340.3 juta.
“Jadi kalau seandainya tiba-tiba perdagangan kita terhenti dengan Rusia, justru kita yang berpeluang akan dirugikan. Terlebih ekspor kita ke Rusia adalah produk non migas,” kata Gunawan di Medan, Jumat (4/3/2022).
Jadi memang tidak semudah itu hubungan dagang antar negara secara politis dihentikan karena perang. Bukan hanya Indonesia, negara Eropa yang ada di blok NATO sekalipun akan kesulitan jika hubungan dagang dengan Rusia terhenti. Terlebih Rusia menjadi negara pengekspor migas ke Eropa. Menutup jalur perdagangan sama saja memicu krisis.
Bagi Indonesia saat ini, perang telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Saat ini harga minyak mentah meroket lebih dari US$100 per barel. Ini tentunya jadi kabar buruk bagi Indonesia, karena pemerintah akan mengeluarkan anggaran lebih untuk subsidi BBM. Pertamina tengah dalam posisi dilematis, kalau tidak menaikkan harga, ini berarti sama aja Pertamina menanggung rugi dengan berjualan BBM di masyarakat.
Selain minyak, harga komoditas dunia juga mengalami kenaikan. Seperti pupuk, sawit, kacang kedelai, hingga banyak komoditas pangan lainnya.
“Korelasinya begini, disaat perang seperti yang terjadi saat ini, harga minyak dunia menjadi lebih mahal. Mahal disini tentunya ada banyak pemicu, umumnya dipicu gangguan produksi dan distribusi,” terangnya.
Hanya saja kata Gunawan, saat minyak mentah dunia naik, maka pembeli akan beralih ke sumber minyak lain, salah satunya bio solar.
“Bio solar itu kan bisa dihasilkan dari minyak sawit. Jadi sudah paasti harganya juga akan ikut naik,” tambahnya.
Dengan kondisi ini, lanjut Gunawan, petani sawit di Sumatera Utara (Sumut) akan diuntungkan dari perang tersebut. Data menunjukan kalau harga CPO dunia itu naik dalam sepekan perdagangan terakhir.
“Jadi perang Rusia-ukraina ini bukan semuanya menjadi kabar buruk. Kita memang perlu memitigasi dampak buruknya, tetapi disisi lain tetap ada yang diuntungkan, petani sawit kita contohnya,” pungkasnya. *(ika)

