SuaraTani.com – Jawa Tengah| Jika selama ini petani hanya menggantungkan hidupnya dari menanam padi, beda halnya dengan masyarakat Desa Panembangan, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah yang berhasil mengombinasikan konsep bertanam padi dengan budidaya nila.
Selain mampu mengurangi hama, praktik mina padi terbukti bisa menghemat pupuk sehingga lebih menguntungkan.
Keberhasilan Mina Padi Panembangan seluas 25 hektare tersebut tak lepas dari jerih payah Srikandi penyuluh perikanan, Khothoh Syuraikhanah.
Cerita Mina Padi Panembangan bermula pada program Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah. Sebagai koordinator penyuluh perikanan Banyumas, Khotoh secara cepat mengumpulkan seluruh tim untuk memetakan potensi binaan.
Setelah dilakukan identifikasi lapangan, hamparan padi di Desa Panembangan yang digarap oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kridoyuwono dinilai tepat diajukan sebagai calon penerima bantuan.
Dengan cekatan, Khotoh mulai menyosialisasikan program mina padi yang rencananya akan direalisasikan di tahun 2020.
Naasnya pada Maret 2020, pandemi Covid-19 meluluhlantahkan seluruh sektor pembangunan. Rencana program mina padi pun ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.
Kabar segar kembali datang di penghujung tahun 2020, penyuluh kembali diminta membuat proposal pembangunan mina padi. Setelah dilakukan verifikasi keanggotaan, tersisa 96 orang dari yang awalnya 106 orang anggota kelompok yang berminat.Tak bisa dipungkiri, perasaan trauma masih membekas di hati petani.
Di sisi lain, dukungan datang dari Kepala Desa Panembangan, Untung Santoyo. Dengan tanggap ia mengumpulkan seluruh traktor yang ada di desa untuk menggarap caren dan saluran irigasi.
“Kami sangat berterima kasih atas jerih payah Bu Khotoh dalam memperjuangkan program mina padi di desa kami. Tentu bukan hal mudah memberikan pembekalan kompetensi dan mempertanggungjawabkan kegiatan yang kompleks. Namun beliau selalu gigih sehingga membuat kami optimis,” ucap Untung.
Penggarapan lahan mina padi dimulai pada Oktober 2021 dengan memberdayakan 200 orang masyarakat sekitar sehingga membuka lapangan kerja baru.
Penggarapan mina padi tersebut harus segera rampung karena panen perdana ditargetkan pada Januari 2022. Untuk itu, Khotoh memutar otak agar mengejar target tersebut.
Kini Mina Padi Panembangan telah berhasil menyelesaikan masa panen yang dibagi menjadi tiga tahap. Panen pertama dihadiri oleh Wakil Bupati Banyumas pada 20 Januari 2022.
Panen kedua disaksikan oleh Bupati Banyumas pada 3 Februari 2022.
Terakhir, panen tahap tiga dilakukan pada 24 Februari 2022, dihadiri oleh Anggota Komisi IV DPR RI Sunarna dan Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan, Lilly Aprilya Pregiwati. Total panen mencapai lebih dari 25 ton ikan nila.
Di sisi lain, Mina Padi Panembangan juga melahirkan sebuah Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) yang beranggotakan istri pembudidaya. Adapun produk Poklahsar tersebut meliputi keripik baby nila, pepes nila, dendeng nila, dan nila bumbu.
Salah seorang anggota Pokdakan Kridoyuwono, Tarwo, mengaku mengalami peningkatan hasil padi sebesar 16-17 persen setelah menggunakan sistem mina padi. Sebelumnya, hasil panen dari luasan satu sangga (70 meter persegi) hanya sebesar 53 kg gabah.
"Namun setelah menggunakan sistem mina padi, saya dapat panen dengan hasil per sangganya mencapai 62 kg, meningkat 9 kg per sangga dari angka sebelumnya. Itu belum termasuk hasil panen ikannya. Harga ikan kami bagus dan terjual dengan mudah berkat bantuan penyuluh perikanan," jelasnya.
Semangat juang sang Srikandi penyuluh perikanan sejalan dengan program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan, khususnya dalam pengembangan kampung budidaya berbasis kearifan lokal. Kini masyarakat merasakan panen ganda berupa padi dan ikan. Selain itu, lahan sawah berpotensi dijadikan tempat rekreasi. *(putri)


