SuaraTani.com – Medan| Nilai investasi yang masuk ke Sumatera Utara (Sumut) di tahun 2021 ternyata belum mampu memenuhi target yang ditetapkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Data yang dikeluarkan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumut menyebutkan, di tahun 2021, nilai investasi yang masuk sebesar Rp26,9 triliun. Nilai ini hanya memenuhi 63,73% dari target sebesar Rp42,3 triliun.
Capaian ini juga dibawah realisasi investasi di tahun 2020 yang mencapai Rp32, 23 triliun.
Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian DPMPTSP Sumut, Sofyan A Hutasuhut, mengatakan, pencapaian terendah terjadi di triwulan IV yang hanya mencapai Rp5,8 triliun.
“Sedangkan yang tertinggi itu terjadi pada triwulan II, yang mencapai sebesar Rp7,5 triliun,” ujar Sofyan di Medan, Senin (14/3/2022).
Sofyan menyebutkan, dari nilai investasi yang masuk tersebut, investasi yang berasal dari dalam negeri menjadi penyumbang terbanyak. Tercatat ada dana investasi sebesar Rp18,8 triliun yang berasal dari PMDN.
“Sedangkan yang modal asing itu tercatat sebesar Rp8,4 triliun,” sebutnya.
Jika dilihat berdasarkan daerah, maka pada triwulan IV, Kabupaten Deliserdang menjadi daerah paling banyak menyerap investasi PMDN. Data yang dirrangkum menyebutkan, ada hampir Rp1 triliun modal yang dinvestasikan, disusul Kabupaten Tapanuli Selatan yang mencapai Rp762 miliar lebih , dan Kota Medan sebesar Rp421 miliar lebih. Sedangkan Kabupaten Batubara menempati peringkat ke empat dengan nilai investasi sebesar Rp360 miliar lebih.
Untuk PMA sendiri, terbanyak diserap Kabupaten Tapanuli Selatan yang mencapai lebih dari Rp1 triliun, kemudian diikuti Kota Medan sebesar Rp403 miliar lebih. Kemudian Kabupaten Asahan sebesar Rp119 miliar dan Kabupaten Deliserdang sebesar Rp82 miliar.
“Dan jika kita gabung antara PMDN dengan PMA, maka daerah yang paling banyak menyerap itu Kabupaten Tapanuli Selatan, yakni sebesar Rp1,8triliun lebih, kemudian Kabupaten Deliserdang sebesar Rp1,3 triliun lebih dan Kota Medan sebesar Rp824 miliar lebih,” terangnya.
Dijelaskannya lebih lanjut, jika dilihat dari jenis usaha, maka untuk PMDN yang terbanyak masih yang bergerak di sektor pertambangan, disusul konstruksi, tanaman pangan, perkebunan dan peternakan, listrik, gas dan air serta industri logam dasar.
Sementara investasi dari sisi PMA, maka yang terbanyak ada di sektor listrik, gas dan air, transportasi, gudang dan telekomunikasi. Kemudian industri makanan, industri kimia dan farmasi, serta pertambangan.
“Dan jika dilihat berdasarkan negara, maka PMA terbesar masih berasal dari Singapura disusul Malaysia Belanda, Hongkong dan RRT. Serta terakhir Belgia,” pungkasnya. *(ika)

