Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Walau Sumut Deflasi, Polemik Minyak Goreng Masih Berlanjut

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi bersama Gubernur Edy Rahmayadi saat meninjau Pasar Pusat Pasar Kota Medan, Sabtu (26/2/2022).suaratani.com-ist 


SuaraTani.com – Medan| Minyak goreng pada akhirnya di bulan Februari 2022 mendorong terjadinya deflasi di Sumatera Utara (Sumut). Meskipun penurunan harga minyak goreng sendiri masih kalah besar dibandingkan dengan sejumlah kebutuhan pangan lainnya seperti daging ayam dan telur ayam. Dan jika harga minyak goreng bertahan dikisaran saat ini, bulan  Maret ini minyak goreng tetap akan menyumbang deflasi.

Harga minyak goreng dari pantauan di sejumlah pasar tradisional di kota Medan pada hari ini masih bertengger dikisaran Rp14 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram (kg) untuk minyak goreng curah, sementara untuk yang kemasan berkisar Rp17 hingga Rp18 ribu per liternya. 

“Harga ini mengacu kepada data PIHPS pada hari ini, tetapi saya yakin minyak goreng curah ini akan menuju angka Rp14 irbu per kg dan merata nantinya,” ujar pemerhati ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin di Medan, Selasa (1/3/2022).

Jadi pada dasarnya kata Gunawan, harga minyak goreng masih belum sepenuhnya sesuai dengan HET dari pemerintah. Polemik masih berlanjut, meskipun progress dari perubahan harga minyak goreng itu tengah menuju ke harga yang diatur pemerintah. Terlebih untuk minyak goreng curah yang memiliki basis konsumen masyarakat menengah ke bawah dan pelaku UMKM.

Hanya saja keluhan konsumen masih muncul. Minyak goreng di sejumlah ritel modern terkadang sulit ditemukan. Biasanya memang yang dijual oleh ritel modern adalah minyak kemasan, sementara minyak goreng curah banyak bereda di pasar tradisional. Saat ini minyak goreng curah harganya lebih murah dibandingkan dengan harga minyak goreng kemasan.

“Saya tidak bisa menduga-duga apa yang membuat minyak goreng kemasan di pasar modern masih dijumpai kelangkaan. Tetapi kalau ada altenatif minyak goreng lainnya, saya pikir masalah tersebut tidak akan membuat masyarakat panik. Yang penting bagi masyarakat, minyak goreng alternative yang lebih murah bisa tersedia cukup di pasar tradisional,” sebut Gunawan.

Pada saat ini harga CPO itu meroket, saat ini saja dikisaran RM6.585 ringgit per ton. Kalau pengusaha ditekan untuk menyediakan minyak goreng murah, tentunya akan muncul perlawanan disitu, karena memang ada potensi kerugian atau potential loss. Karena setelah pemerintah mensubsidi minyak goreng, harga CPO justru semakin melambung.

“Nah, terkait dengan realisasi deflasi, saya pikir memang wajar terjadi deflasi saat ini. Dan deflasi ini murni bukan karena penurunan daya beli dalam sebulan terakhir, karena memang ada penurunan harga. Tetapi ingat tugas masih berat, harga kebutuhan pangan berpelkuang bertahan tinggi di tahun ini,” pungkasnya. *(ika)