Petugas dari BBKSDA Sumut memasang kandang jebak untuk menyelesaikan konflik harimau sumatera dengan masyarakat di Kecamatan Batang Serangan. Hingga mendekati akhir April, BBKSDA Sumut mencatat ada 13 kali konflik satwa di tiga kecamatan di Kabupaten Langkat.suaratani.com-ist SuaraTani.com – Medan| Berada wilayah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser membuat warga Kabupaten Langkat terutama yang bermukim di Kecamatan Bahorok, Batang Serangan dan Besitang harus mempersiapkan diri untuk intens berkonflik dengan satwa liar yang merupakan habitat asli.
“Sementara untuk warga yang bermukim di Kecamatan Sei Lepan dan Sei Bingei, potensi konflik dengan satwa tetap ada, meski dengan intensitas yang lebih rendah,” ujar Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara (Sumut), Herbet Aritonang, saat dihubungi, Selasa (26/4/2022).
Herbert mengatakan, hingga mendekati akhir April, warga yang bermukim di Kecamatan Bahorok setidaknya sudah 5 kali berkonflik dengan satwa. Dari konflik tersebut, tiga ekor lembu peliharaan warga dimangsa harimau, sementara gajah dua kali merusak tanaman dan pondok masyarakat Dusun Sapo Padang.
Untuk di Kecamatan Besitang, tercatat ada 8 kali terjadi konflik, dimana ditemukan 5 ekor lembu mati, dan 3 jejak harimau serta gajah.
“Sementara untuk Kecamatan Besitang, kita catat ada 2 kali konflik berupa gajah mati di areal kebun masyarakat dan gajah merusak perkebunan masyarakat,” katanya.
Di tahun 2021 lalu, BBKSDA Sumut mencatat ada 29 kali konflik antar masyarakat dengan satwa mau pun antar satwa. *(ika)

